Workshop Kesiapsiagaan Sekolah dan Masyarakat

Kegiatan workshop berlangsung hari Rabu, 21 November 2018 di Gedung 10 Kampus LIPI. Kegiatan ini diisi langsung oleh peneliti senior dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Dr. Eko Yulianto. Peserta yang hadir merupakan perwakilan dari sekolah dasar (SD), SMP, dan SMA di sekitar kota Bandung dan Bandung bagian Utara, serta Linmas Kecamatan Coblong. Tujuan dari diselenggarakannya workshop ini adalah untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam menghadapi gempa yang sewaktu-waktu dapat terjadi, khususnya gempa yang diakibatkan karena pergerakan sesar/patahan lembang.

Menurut Dr. Eko Yulianto, penelitian mengenai Magnitude maksimal gempa yang berasal dari sesar lembang telah dikaji mendalam oleh tim dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. Sesar yang memiliki panjang sekitar 29 km membentang dari barat hingga timur di bagian utara kota Bandung ini, diprediksi memiliki Magnitude maksimal sekitar 6,5 SR. Tentunya ini membutuhkan perhatian khusus, mengingat jumlah penduduk di kota Bandung dan sekitarnya cukup padat. Terlebih, karakteristik kota Bandung yang diapit oleh tinggian dari berbagai arah dan karakteristik tanah yang dapat menyebabkan amplifikasi gempa lebih besar, menjadikan bandung memiliki potensi kerusakan yang besar bila diguncang gempa.

“Gempa tidak membunuh, runtuhan bangunanlah yang membunuh” berikut ucapan Dr. Eko Yulianto dalam pertengahan sesi workshop. Berangkat dari permasalahan tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir korban jiwa akibat runtuhnya bangunan, yang paling pokok adalah membuat bangunan yang tahan gempa. Pembuatan bangunan tahan gempa tidaklah sulit, hanya perlu memodifikasi  beberapa bagian pada rumah terutama pada “kolom”. Masyarakat umumnya melakukan kesalahan dengan membuat rumah tanpa kolom (hanya berupa tumpukan bata atau beton yang disemen rapi). Selain itu, untuk melindungi diri dari runtuhan atap, bisa dilakukan dengan menunduk di bawah meja yang telah diperkuat sebelumya dengan berpegangan pada kaki meja tersebut. Penguatan meja dapat dilakukan dengan menambahkan siku baja pada sambungan kaki dengan meja bagian atas. Berkaca dari negeri matahari terbit, mengikat perabot (lemari, kulkas,dll) pada dinding yang telah diperkuat, juga membantu meminimalisir adanya korban akibat tertimpa perabotan berat. 

Pada sesi akhir, peserta dibagi menjadi tim dan diminta untuk menyelediki lingkungan sekitar gedung yang memiliki potensi berupa “kerentanan” dan “kapasitas”. Hal tersebut dimaksudkan agar peserta lebih paham dan dapat dipraktekan langsung untuk mengenali potensi kerentanan dan kapasitas di lingkungan, khususnya di sekolah masing-masing.

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page