Workshop Kesiapsiagaan Sekolah dan Masyarakat Menghadapi Ancaman Gempa Bumi

Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI kembali melaksanakan workshop dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi. Workshop yang diadakan pada hari Kamis, 20 Desember 2018 ini bertempat di Aula Balai Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Tujuan dari rangkaian workshop ini adalah untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam menghadapi gempa yang sewaktu-waktu dapat terjadi, khususnya gempabumi yang diakibatkan karena pergerakan sesar/patahan Lembang.

Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan BPBD dan dihadiri oleh seluruh aparat desa se-kecamatan Lembang. Selain itu, kegiatan ini melibatkan beberapa pihak terkait seperti dinas pariwisata. Hal ini berkaitan dengan harapan untuk mengembangkan sebuah geopark untuk meningkatkan awareness dan ketertarikan masyarakat terkait keadaan daerah mereka.

Dibuka dengan sambutan dari bapak Gentarez dari BPBD, mengingatkan masyarakat Lembang khususnya tentang potensi dan ancaman bencana yang mungkin terjadi di daerah tersebut, terutama gempabumi. Hal ini mengingat sebagian besar desa di kecamatan Lembang berada sepanjang jalur sesar Lembang.

Penjelasan tentang keberadaan dan keadaan sesar Lembang ini kemudian dipaparkan oleh Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI, Dr. Eko Yulianto, yang diikuti dengan diskusi yang cukup interaktif dengan peserta workshop. Menurut Dr. Eko Yulianto, sesar lembang membentang hingga kedalaman 15 km dan memanjang hingg

a 29 km, berdasarkan sejarahnya telah menyebabkan sejumlah gempa di sebagian daerah seperti Lembang dan Bandung. Bahasan tentang likuifaksi cukup hangat dibahas mengingat gempa Palu silam yang diikuti likuifaksi yang masih menjadi momok yang menakutkan terutama untuk masyarakat yang bermukim di daerah rawan gempa. Dalam kesempatan ini Dr. Eko Yulianto menjelaskan bagaimana keadaan kecamatan Lembang dan potensinya mengalami likuifaksi, dan bagaimana rekaman dari studi sedimen terkait gempa dan tsunami terdahulu yang terjadi di daerah ini.

Dalam paparan beliau, hendaknya ancaman gempabumi tidak hanya kita lihat dari sisi bahayanya tapi bagaimana kita bisa memanfaatkan potensi bencana ini untuk memberi nilai tambah bagi kecamatan Lembang. Sebagai contoh kita bisa berkaca pada beberapa gempa di Jepang dimana daerah yang ‘mereka’ jejak gempa kemudian dijadikan museum dan menjadi tujuan wisata edukasi bagi masyarakat. Dr. Eko Yulianto dalam bahasannya bersama dinas pariwisata mengangkat peluang untuk jenis atau tema wisata baru di Lembang yaitu wisata sadar bencana, dimana Lembang di

arahkan untuk mengedepankan kesiapan mereka terhadap bencana seperti adanya bangunan hotel dan akomodasi yang tahan gempa.

Menutup diskusi ini, Dr. Eko Yulianto memaparkan bahwa bencana memang seharusnya kita hindari, namun cara terbaik adalah dengan mengenali dimana kita tinggal, dan bagaimana kita bisa meminimalisir ancaman dari bencana-bencana yang mungkin terjadi di sekitar kita (AD).

 

 

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page