PUISI NEGERI GELOMBANG TINGGI

Seratus dubelas tahun lalu, Jumat 4 Januari 1907, Simeulue bersedih hati. Menjelang sholat Jumat, bumi berguncang keras tak terperi. Air laut surut begitu cepat, dasarnya terlihat mencuat tak terairi. Tak menunggu lama, gelombang besar naik ke daratan meluluhlantakkan semua yang ada di dataran pantai pulau ini. Lebih dari 2000 orang hidupnya tak bisa berlanjut lagi. Tubuh-tubuh tersangkut di pepohonan kelapa, tak bernyawa lagi. Inilah kisah smong, pengetahuan yang pada jaman kiwari lebih sering disebut tsunami. Penyintas berusia hamper seabad itu mengisahkannya kembali, dua tahun setelah 26 Desember 2004 ketika gelombang gempa dan gelombang air tinggi kembali menyambangi pulau ini. Dan ini bukan yang terakhir kali. Karena tsunami pasti akan mengunjungi lagi pulau ini di hari hari nanti. Di penggalan kisah yang tercetak dalam buku bumi pulau ini, ibu pertiwi membisiki para ahli geologi, 1907 dan 2004 hanyalah dua dari lima tsunami yang pernah terjadi. Pada 1797, 1861 dan 2005, tiga tsunami lain pernah menghampiri.
Negeri ini memang dilimpahi gempabumi dan tsunami, juga banjir, longsor dan letusan gunung berapi. Tidak ketinggalan liquefaksi dan gelombang tinggi. Itu semua takdir bumi. Nafas bumi sejak sebelum ia berpenghuni. Namun bencana tak perlu terjadi jika semua mengerti, bencana hanya terjadi karena sang penghuni tak pandai mengatur dan menahan diri. Tsunami bukanlah bencana tsunami, banjir tak menjadi bencana banjir jika sempadan pantai dan sempadan sungai tidak ditinggali. Longsor takkan menjadi bencana longsor, kemarau panjang tak harus berubah menjadi bencana kekeringan jika lereng-lereng dan hutan-hutan tidak serampangan digunduli.
Bencana begitu mengakrabi mata telinga manusia negeri ini, saat ini. Beritanya sambung menyambung tiada henti. Musim hujan, kisah banjir berpadu longsor berselingan dengan puting beliung menyesaki media sosial, koran dan televisi. Kemarau menjelang, kabar kekeringan membajak semua media, disela berita kebakaran lahan dan hutan, ditingkahi gempa, kadang-kadang juga tsunami, letusan gunung berapi, likuefaksi dan gelombang tinggi. Waktu terus berganti, bencana bukannya pergi, malah makin sering menyambangi. Siaga darurat bencana berlangsung hampir sepanjang tahun di negeri ini. Siaga darurat banjir, longsor, puting beliung dan gelombang tinggi, berlanjut siaga darurat kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, berputar tanpa henti. Dana siap pakai, biaya tak terduga, anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi semakin memoroti pundi-pundi negeri ini. Padahal bumi negeri ini begitu diberkahi. Gemah ripah loh jinawi.
Tengoklah tahun nan baru terlewati. Dalam keriuhan kabar banjir bulan Januari, guncangan bumi di Banten menyambangi. Di Brebes tanah runtuh mengikuti, letusan Sinabung merecoki, keduanya di bulan Februari. Agustus, kekeringan terjadi. Di tengah kabar warga mengantre air dibagi, di Lombok guncangan bumi unjuk diri. Belum tuntas para korban bencana ini tertangani, di Sulawesi Tengah guncangan bumi bersama tsunami dan liquefaksi mendatangi. Desember, di tengah media mulai berbagi berita luapan sungai-sungai yang menggenangi, di Selat Sunda tsunami kembali merecoki, longsor menimbuni puluhan rumah dan warga di Sukabumi. Daur bencana dimulai lagi, bahkan sebelum tahun berganti. Kambing hitamnya sistem peringatan dini, Benarkah berita ini ?

Tata Ruang Berbasis Mitigasi

Negeri matahari terbit diakui memiliki sistem peringatan dini dan mitigasi paling mumpuni, apatah lagi peringatan dini tsunami. Pendeteksi gempa dan tsunami, sirine peringatan dini tersebar sangat rapi di setiap penjuru negeri. Pantai-pantainya dilindungi tembok laut tinggi. Hutan-hutan pantai ikut membentengi di belakang tembok tinggi ini dari ancaman tsunami. Berharap takdir dan nafas ibu pertiwi benar-benar bisa disiasati dan tsunami tak perlu lagi menghantui. Namun semuanya tak berarti saat 2011 tsunami menyambangi. Nafas 23 ribu orang terhenti, tergulung gelombang tinggi. Negeri ini merugi, 2500 trilyun rupiah pergi direnggut paksa oleh gelombang tsunami.
Punggawa negeri matahari dan para begawan ilmu bumi lalu menyadari, ibu pertiwi memang memiliki nafas dan takdirnya sendiri. Sistem peringatan dini bencana mumpuni mungkin berarti. Namun ini hanyalah piranti. Ia tak berarti jika tiap diri tak lagi peduli. Tak juga mau menghormati takdir dan nafas bumi. Berdalih bahwa hidup mati di tangan Ilahi Rabbi. Apalagi jika para punggawa negeri tak mampu dan tak kuat memagari dan memegangi rambu-rambu yang dimufakati. Bahwa sempadan pantai, sempadan sungai dan lereng-lereng tak boleh ditinggali. Hutan-hutan, bakau-bakau haram digunduli. Sungai-sungai tak boleh dikotori. Tiadalah arti peringatan dini jika ibu pertiwi sudah dipunggungi.

Eko Yulianto
Peneliti Paleotsunami dan Kebencanaan
Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page