Peringatan Risiko Likuifaksi di Pesisir Benoa dan Sekitarnya

Sejumlah serial penelitian dilakukan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di pesisir Selatan Bali yakni Tanjung Benoa, Serangan, dan sekitarnya. Dalam dua kali publikasi hasil penelitian pada 2013 dan 2016, para peneliti memberi peringatan risiko likuifaksi dan amblesan di kawasan ini jika dipicu gempa bumi di atas 6 SR dalam waktu cukup lama.

Dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Provinsi Bali tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) ada rencana perluasan Pelabuhan Benoa. Proses reklamasi sedang berlangsung. Sebelumnya sudah ada jalan tol di atas perairan sepanjang 12,7 km yang dikebut pembangunannya dalam 14 bulan, dan sudah beroperasi 4 tahun. Tol pertama di Bali yang dikelola PT. Jasa Marga Bali Tol ini menghubungkan tiga kawasan wisata di Bali Selatan yakni Nusa Dua, Benoa, dan Bandara Ngurah Rai.

Pemerintah beralasan tol ini darurat untuk mengurang kemacetan jelang Konferensi Tingkat Tinggi Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) Summit pada 2013. Salah satu cara mempercepat konstruksi, pengelola mengurug laut dengan batu kapur untuk mempercepat pendirian ribuan pilar-pilar yang menopang tol ini.

Kemudian akhir 2016 Jasa Marga mengumumkan rencana tambahan konstruksi di sekitar tol. Istilahnya Tempat Pelayanan dan Wisata (TPW), bernama Bedawang Nala. Sebuah proyek penarik turis berbentuk penyu dengan nilai investasi mendekati Rp2,5 triliun.

“Menjadi meeting pointsekaligus tempat istirahat bagi wisatawan yang habis jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat menarik di Bali. Mereka bisa istirahat sambil menikmati kuliner dan belanja oleh-oleh atau suvenir,” ujar Kepala Humas PT Jasa Marga Bali Tol Drajad Hari Suseno pada Mongabay, diwawancara pada 2017.

Juga rencana reklamasi oleh PT Tirta Wisata Bali Internasional (TWBI) yang akan membuat belasan pulau-pulau buatan sebagai resor wisata di atas perairan teluk Benoa seluas 700 hektar. Rencana reklamasi ini masih diprotes oleh warga di antaranya melalui Pasubayan Desa Adat dan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI).

Selain sejumlah mega proyek yang sedang dan akan memenuhi kawasan perairan dangkal ini, peneliti juga menilai risiko likufaksi ada di Pulau Serangan, sebuah pulau kecil yang kini menyambung dengan Pulau Bali setelah ditambah luasnya dengan reklamasi oleh investor Keluarga Cendana. Kawasan ini sudah cukup padat pemukiman dan aktivitas wisata.

“Hasil riset yang kami lakukan masih relevan terhadap potensi ancaman bahaya likuifaksi karena kondisi geologi permukaan dan bawah permukaan masih memungkinkan terjadinya likuifaksi dan penurunan,” urai Eko Soebowo, peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Bandung, dihubungi Mongabay,Kamis (10/01/2019). Kriteria rentan likuifaksi adalah materialnya dominan pasir halus, lanau, lempung, muka airtanah dangkal, dan yang utama pemicu gempa dengan skala di atas 6-8 SR.

Daerah Tanjung Benua dan sekitarnya dari sejumlah titik pengeboran sampel merupakan lembah yang diisi oleh material pasir lanau lempung saling jari menjari. Dengan demikian apabila terjadi goncangan yang cukup kuat pada area tersebut rentan potensi likuifaksi.

Eko menyarankan sebaiknya area ini dipertahankan. “Sebaiknya lahan tetap kondisi eksisting seperti saat ini, apabila tetap akan memanfaatkan dibangun harus memperhatikan kondisi tanah bawah permukaannya,” sarannya. Jika dibangun, perlu perkuatan lapisan tanah agar daya dukung keteknikan lahan semakin kuat dengan risiko cukup mahal untuk rekayasanya. Jika direklamasi diperlukan perkuatan daya dukung dengan melakukan pemadatan tanah berbagai metode seperti vibrasi compaction dan pemadatan dinamis.

Wilayah pesisir pada cekungan sedimen di daerah Serangan – Tuban –Tanjung Benoa sebagai kawasan pengembangan tata ruang dan infrastruktur disebut perlu mendapat perhatian terkait dengan kondisi geologi teknik bawah permukaan dan ancaman bahaya geologinya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik geologi teknik sedimen bawah permukaan berkaitan dengan ancaman bahaya amblesan dan likuifaksi. Metode penelitian meliputi pemboran teknik, pengujian penetrasi konus, pengujian laboratorium geoteknik, dan analisis geologi teknik.

Hasil penelitian menunjukkan ketebalan sedimen kuarter mencapai kurang lebih 20 meter, terdiri dari tanah penutup, lempung, lanau – lempung, perselingan lanau – pasir lempungan, sisipan kerikil, pasir kasar dan batugamping sebagai batuan dasar. Keberadaan lapisan lempung sangat lunak hingga lunak. Lanau adalah tanah atau butiran penyusun tanah/batuan yang berukuran di antara pasir dan lempung. Dapat membentuk endapan yang mengapung di permukaan air maupun yang tenggelam.

Eko menunjukkan hasil penelitian dan foto-foto area pengujiannya. Ada sejumlah penghitungan risiko amblesan dari material yang diuji. Salah satu hasil penelitiannya ada di Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.26, No.1, Juni 2016, hal 41 – 54. Prosiding berjudul Geologi Teknik Sedimen Kuarter Kaitannya Dengan Bahaya Amblesan dan Likuifaksi di Serangan – Tuban – Tanjung Benoa, Bali Selatan.

Hasil analisis geologi dan geologi teknik menunjukkan bahwa sedimen Kuarter di daerah Pendungan – Sanur Barat, Bali Selatan merupakan endapan laguna pantai. Dicirikan oleh material lempung dengan ketebalan sekitar 20 meter, tingkat konsistensi lempung sangat lunak hingga lunak dengan nilai qt < 5 MPa dan nilai N- SPT < 4 mengindikasikan rentan amblesan. Daerah Kedonganan – Tanjungbenoa – Serangan yang merupakan endapan pematang pantai berupa material pasir berukuran halus – sedang. Tingkat kepadatan sangat lepas hingga lepas dengan nilai qt < 10 MPa dan nilai N-SPT < 10 mengindikasikan kerentanan likuifaksi apabila terjadi goncangan gempabumi berskala cukup besar. Dengan demikian pada lokasi-lokasi tersebut perlu mendapat perhatian dalam upaya pengurangan risiko bahaya amblesan dan likuifaksi.

“Kalau dibangun standar internasional harus mengikuti SoP, dan beban gempa harus dimasukkan sebagai persyaratan utama,” sebut Eko. Ia mengatakan hasil riset ini sudah dipresentasikan di Bandung, mengundang Bappeda Bali dan telah diunggah di laman website IAGIpada 2013.

Menurutnya ini peringatan dini, dan kalau ada pembangunan lagi atau reklamasi harus mempertimbangkan kajian mendalam. Termasuk reklamasi pengembangan Pelindo. Ia juga menyebut sudah menyampaikan ke pihak pelabuhan.

Eko mengingat tantangan saat meneliti, sulit mendapat izin masuk, sampai kajian uji tanah diijinkan. “Dikira kontraktor,” sebutnya. Setelah presentasi hasil ke pemerintah, untuk pemberitahuan ke masyarakat, lanjutnya, tugas Bappeda dan stakeholdernya karena area potensi gempa. Areal bandara baru di Jogja Kulonprogo juga menurutnya rentan likuifaksi.

Secara sederhana, Eko menyebut material yang rentan amblesan dan likuifaksi ini karena proses geologi. Terkait pasang surut, material mengendap silih berganti. Misal material dari gunung ke sungai lalu ke laut.

Kajian ini bermanfaat untuk mitigasi bencana. Terlebih Bali Selatan memang memiliki risiko bencana lebih tinggi seperti gempa bumi. Terletak sekitar 100 – 150 km di sebelah utara zona subduksi aktif (McCaffrey dan Nabalek, 1987; Daryono, 2011). Sejarah kegempaan di daerah ini telah mencatat peristiwa gempabumi besar seperti pada tahun 1862 : MMI VII, tahun 1890: MMI VII, tahun 1917: MMI VII, tahun 1938: MMI VII, tahun 1961: MMI VII tahun 1976: MMI VIII, tahun 1979: MMI VII – VIII, tahun 1985: 6.2 SR, tahun 1987: 5.7 SR, tahun 2004: 6.1 SR, 6.2 SR, 5.5 SR selatan Bali dan 13 Oktober 2011 dengan 6.8 SR (USGS dan BMKG).

Sumber: Mangobay.co.id

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page