Inilah Empat Rekomendasi Pakar LIPI Bagi Penanganan Longsor Banjarnegara

(Jakarta – Humas LIPI). Pakar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tergabung dalam Tim Kaji Cepat Longsor Banjarnegara memberikan empat rekomendasi bagi penanganan longsor yang terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Hal ini mengingat masih ada potensi longsor susulan yang berasal dari gerakan tanah, terutama pada material timbunan tanah longsor yang belum bergerak di bagian tengah lereng.

“Saya perkirakan ada pergerakan tanah susulan dari material timbunan tersebut karena masih ada mata air keluar di lereng yang longsor dan menggenang membentuk kolam,” ungkap Dr. Adrin Tohari, Peneliti Longsor dan Gerakan Tanah dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI saat berbicara dalam Diskusi Publik “Hasil Kajian Bencana Longsor Banjarnegara” di Media Center LIPI Jakarta, Rabu (17/12).

Untuk itu, lanjut Adrin, pihaknya pun merekomedasikan empat hal untuk pencegahannya. Pertama adalah perlu dilakukan sodetan air dengan menggunakan jaringan pipa untuk mencegah gerakan tanah susulan.

“Saya merekomendasikan untuk awal dibangun jaringan pipa di genangan kolam yang terbentuk untuk membuang air agar tidak terjadi longsor susulan,” jelasnya.

Selain itu, rekomendasi kedua adalah zona pergerakan tanah di Banjarnegara tergolong menengah hingga tinggi. Oleh karena itu, masyarakat harus terus ditingkatkan kewaspadaannya menghadapi bencana.

“Implementasi sistem peringatan dini yang melibatkan partisipasi masyarakat sangat penting, terutama edukasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah sangat diperlukan,” tukas Adrin.

Ketiga, dia menuturkan perlu kajian lebih detil terhadap wilayah kerentanan menengah hingga tinggi berdasarkan kondisi geologi, topografi dan hidrologi lereng untuk melihat potensi bahaya gerakan tanah di seluruh wilayah perbukitan Banjarnegara.

Setelah data kajian ada, kesiapsiagaan menghadapi bencana dijadikan salah satu program pemerintah daerah. Dan, wilayah yang rentan bencana longsor direkomendasikan agar menjadi kawasan non-hunian karena situasi tanah akan bergerak jika curah hujan tinggi.

Untuk rekomendasi keempat, Adrin menyarankan kegiatan mitigasi bahaya gerakan tanah harus menjadi mainstreaming seluruh instansi, baik pemerintah daerah maupun pusat.

Sementara itu, Dr. Bambang Widyatmoko, Peneliti Longsor dan Gerakan Tanah dari Pusat Penelitian Fisika LIPI menambahkan bahwa antisipasi bencana longsor harus pula didukung dengan alat pendeteksi longsor.

“LIPI sendiri telah mampu membuat alatnya dan kami ingin menularkan ilmu membuat alat sensor gerakan tanah, sensor getaran, dan sensor aliran air tanah kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ia menggarisbawahi partisipasi masyarakat sangat penting agar mau membuat alatnya. “Kami merancang alat sesederhana mungkin untuk pemantau pergerakan tanah dan diharapkan anak-anak SMK di kabupaten Banjarnegara dikirim ke LIPI utk membuat alat ini secara bersama-sama. Kami siap memberikan ilmu-ilmu dan bahan-bahan untuk dipakai peralatan tapi benar-benar dibuat oleh lingkungan setempat sehingga mempermudah operasional di lapangan,” pungkas Kepala Pusat Penelitian Fisika LIPI itu. (pw)

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page