LIPI: Dua Tebing Curam Berisi Air, Waspadai Longsor Susulan di Jemblung

[JAKARTA] Hasil tim kaji cepat longsor Banjarnegara mengingatkan akan potensi longsor susulan di di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah karena adanya gawir atau tebing curam yang terbentuk dari longsor dan terisi air.

Hasil kajian tim atas longsor yang terjadi, Jumat (12/12) menyebut adanya aliran air atau mata air dalam tanah di lereng yang longsor dan mengalami kejenuhan karena curah hujan yang tinggi mencapai 400 milimeter dalam 11 hari di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Peneliti Pusat Penelitiaan Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adrin Tohari yang terlibat dalam tim kajian itu mengatakan tata guna lahan tidak berperan untuk pergerakan tanah di Jemblung. Menurutnya penggunaan tanah seperti itu sudah terjadi sejak dulu.

“Lokasi gerakan tanah Jemblung berada di daerah perbukitan dengan kemiringan 40-60 derajat. Lokasi gerakan tanah Jemblung berada di zona kerentanan menengah dan tinggi,” katanya dalam konferensi pers di media center LIPI, Jakarta, Rabu (17/12).

Adrin pun menjelaskan jenis gerakan tanah Jemblung ada dua yakni gerakan tanah jenis aliran tanah padat dan. Gerakan tanah jenis aliran lumpur. Longsoran tersebut diperkirakan mencapai ribuan meter kubik ton tanah dengan ketebalan 10 meter.

Di samping itu Dusun Jemblung pun tersusun oleh tanah lempung lanauan yang rapuh sehingga mempunyai kekuatan kecil. Kemunculan mata air di gawir menandakan terdapat aliran air dalam tanah melalui rekahan atau bidang lemah di dalam lereng.

“Ditemukan genangan air dari mata air yang muncul dan akan menjadi pemicu gerakan tanah susulan jika tidak dimitigasi,” ucapnya.

Adrin menjelaskan harus diwaspadai dua gawir atau tebing curam yang terbentuk dari longsoraan di sisi barat dan timur lokasi. Gawir di sisi timur ini membentuk kolam tampungaan aliran air dari atas seluas sekitar 90 meter persegi. Di bawah kolam terdapat material longsoran lebih dari 1.000 meter kubik yang bisaa menimbulkan longsor susulan bila air meluap.

Ia pun menyarankan agar dibangun jaringan pipa di kolam itu untuk membuang air agar tidak terjadi longsor susulan.

“Kami juga merekomendasikan ke pemerintah daerah agar kawasan tersebut menjadi kawasan non hunian karena situasi tanah akan bergerak lagi jika curah hujan tinggi,” ungkapnya.

Terkait kesiapsiagaan bencana, Adrin mengingatkan Banjarnegara masuk zona pergerakan tanah menengah tinggi. Masyarakat harus terus ditingkatkan kewaspadaanya menghadapi bencana. [R-15/N-6]

Sumber:  Suara Pembaruan Online, 17 Desember 2014

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page