Negeri Gugup Bencana Longsor

Liputan6.com, Jakarta –¬†Pada¬†12 Desember 2014¬†tahun lalu, tebing Tlogolele meluncur deras dan mengubur semua yang dilaluinya. Dalam sekejap puluhan rumah di¬†Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karang Kobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terkubur longsoran tanah.

Curah hujan tinggi membuat tebing terjal tersebut tak mampu bertahan. Bencana longsorpun menyapu dusun tersebut. Lebih dari seratus jiwa tak mampu berkelit dari maut.

Untuk wilayah Banjarnegara, longsor di Dusun Jemblung ini menjadi bencana kedua dalam 1 dekade terakhir. 9 Tahun silam, 76 orang meregang nyawa tersapu longsor di Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara.

Banyaknya kasus tanah longsor membuktikan pergerakan tanah menjadi bencana paling mematikan sepanjang tahun 2014. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun lalu telah terjadi 385 kasus tanah longsor. Lebih dari 300 orang meninggal dunia, ratusan rumah rusak, dan menyebabkan lebih dari 13 ribu orang mengungsi.

Bencana tanah longsor yang terus meminta korban mengusik Adrin Tohari. Menurut ahli pergerakan tanah ini, korban jiwa mestinya bisa ditekan seminim mungkin.

“Bahwa korban jiwa itu sangat besar sekali melebihi dari 100 orang. Hal itu disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap potensi tanah longsor di daerahnya,” jelas Adrin.

“Mungkin masyarakat sudah mendapatkan informasi bahwa desanya rawan longsor. Tapi informasi yang mereka terima masih belum cukup atau memadai”.

“Misalnya ketika musim hujan mereka disuruh evakuasi dan mengungsi sementara waktu. Tetapi kadang informasi itu tidak lengkap. Apabila mereka kembali ke dusunnya masing-masing, mereka seharusnya menunggu kondisi aman yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat,” lanjut Adrin.

Bencana longsor tidak serta merta terjadi. Curah hujan tinggi, bentang alam yang curam, dan karakter tanah dengan kandungan air yang tinggi seharusnya bisa dicermati.

Penelitian alat deteksi dini pergerakan tanah sudah digagas sejak lama. Namun tanah longsor masih terus meminta korban.

Kondisi geografis sebagian wilayah Indonesia yang berbukit dan lembah bukan hanya menjanjikan keindahan, tapi juga berpotensi petaka. Ditambah curah hujan yang tinggi dan bahaya pergerakan tanah yang terus mengancam.

Meningkatkan kewaspadaan sebelum bencana tanah longsor menjadi sesuatu keniscayaan. Alat pengukur kandungan air dalam tanah tengah dikembangkan peneliti pergerakan tanah Adrin Tohari.

2 Unit sensor yang ditanam akan memberi informasi peningkatan kadar air di sebuah lereng. Masuknya air hujan ke lereng secara berlebih akan membuat kondisi tanah menjadi labil. Sensor memberi informasi derajat yang patut diwaspadai sebelum tanah dalam kondisi jenuh.

Peneliti yang telah 10 tahun menggeluti ilmu pergerakan tanah ini meyakini, tingginya kadar air tanah pada suatu lereng dapat mempercepat terjadinya longsor. Informasi kenaikan kadar air bisa diterima dan dianalisis secara jarak jauh memanfaatkan sinyal telepon seluler.

Saat ini Adrin juga tengah mengembangkan instrumen pencegahan tanah longsor. Inovasi ini bernama Teknologi Gravitasi Ekstrasi Air Tanah untuk Kestabilan Lereng atau disingkat The Greatest.

Teknologi ini relatif sederhana. Memanfaatkan gaya gravitasi air yang melebihi bidang gelincir otomatis dan dialirkan ke sistem pembuangan. Bidang gelincir adalah lapisan tanah atau batuan yang memiliki tekstur lebih rapat dan partikel padat.

Inovasi The Greatest yang diharapkan membuat tanah lereng lebih stabil kini sudah menjalani uji coba lapangan. 4 Lubang menjadi pengontrol air tanah. Masing-masing lubang berjarak 1,5 meter. Kerapatan lubang tergantung derajat kecuraman lereng dan kondisi morfologi tanah sekitar.

Sebagai lokasi eksperimen, Adrin memilih kawasan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Garut menjadi 1 di antara wilayah dengan jumlah titik rawan pergerakan tanah terbanyak di Jawa Barat.

Dari catatan BNPB tahun 2014 lalu, terjadi 18 kali tanah longsor di Bumi Parahyangan ini dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia yang tak lebih dari 10 kejadian per tahun.

Sumber: Liputan6.com, 19/01/2015

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page