Gerakan Tanah Bahaya Nyata di Perbukitan

Oleh: Adrin Tohari

Saksi mata bencana gerakan tanah Ciwidey mengaku mendengar suara gemuruh, tetapi ada juga yang mengatakan suara keras itu mirip ledakan. “Sekitar pukul delapan tiba-tiba ada suara keras yang mengejutkan. Saya kebetulan sedang di pabrik dan melihat ada endapan lumpur bercampur kayu yang masuk ke arah sini”, tutur Oni (25), seorang pekerja perkebunan teh. Longsoran tanah menjadi momen yang mengerikan karena ternyata tak cuma sekali. Oni menuturkan, dalam selang sekitar 5 menit terjadi dua longsoran yang lebih besar. “Yang kedua dan ketiga lebih besar. Lumpur berwarna kuning kecoklatan pun mengalir sangat deras bak tsunami,” ujarnya. Dalam hitungan menit, sebagaimana diberitakan oleh Kompas.com pada 24 Februari 2010, lumpur dengan cepat mengalir dan mengubur beberapa bangunan, seperti kantor utama, pabrik, perumahan, dan sekolah. Dibanding bahaya geologi lainnya (gempa bumi, tsunami atau letusan gunung api), setiap tahunnya gerakan tanah lebih sering terjadi di wilayah perbukitan di Indonesia. Hampir semua kejadian gerakan tanah itu menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda. Menurut data dan informasi bencana di Indonesia (DIBI-BNPB), kejadian bencana gerakan tanah di Indonesia selama 10 tahun (2004-2013) ini mencapai 1.990 peristiwa, dengan kejadian terbanyak pada 2010 yang mencapai 400 kejadian. Bencananya menimbulkan kerugian ekonomi senilai 1-2 juta dolar AS dan lebih dari 20 korban jiwa setiap tahunnya. Bahkan dalam satu kejadian gerakan tanah, korban jiwa dapat mencapai 100 orang lebih seperti pada bencana aliran bahan rombakan (debrisflow) di Sungai Bahorok pada 2003, dan bencana aliran lumpur di Pegunungan Argupuro, Jember, Jawa Timur pada 2006 lalu. Gerakan tanah merupakan bahaya yang nyata dan selalu dapat terjadi kapan pun dan dimana pun saat musim hujan atau saat terjadi gempa bumi. Dalam istilah lain, gerakan tanah adalah bencana yang clear and present danger yang sudah semestinya dihindari atau diminimalkan risikonya. Untuk itu, diperlukan upaya mitigasi yang efektif untuk mengurangi risiko dari bahaya gerakan tanah ini. Pengetahuan dan pemahaman yang baik merupakan hal yang penting dalam upaya mitigasi tersebut, selain upaya mitigasi, baik mitigasi struktural maupun nonstruktural.

Pengontrol, Pemicu dan Proses Gerakan Tanah

Gerakan tanah didefinisikan sebagai pergerakan massa tanah atau batuan ke bawah lereng di bawah pengaruh gaya gravitasi. Menurut Vernes dalam Special Report 176: Landslides: Analysis and Control, jenis-jenis gerakan tanah terdiri dari jatuhan, rubuhan, luncuran/longsoran, pencaran dan aliran. Kombinasi jenis gerakan dan material yang bergerak memberikan deskripsi dasar dari gerakan tanah, misalnya runtuhan batuan, aliran bahan rombakan. Gerakan tanah yang melibatkan dua atau lebih jenis gerakan diklasifikasikan sebagai gerakan tanah kompleks, misalnya, longsoran batuan dan bahan rombakan skala besar (melibatkan runtuhan, luncuran dan aliran). Tidak semua ahli gerakan tanah menggunakan klasifikasi gerakan tanah ini, sehingga sangat penting untuk menyebutkan klasifikasi yang digunakan. Di Indonesia, jenis gerakan tanah yang sering terjadi adalah longsoran dan aliran. Keduanya lebih sering menyebabkan korban jiwa dan kerugian harta benda yang besar, seperti yang terjadi di Sijeruk (2006), Ciwidey (2009), atau Cililin (2013). Berdasarkan data kejadian selama kurun waktu 20 tahun, bencana gerakan tanah banyak terjadi di Pulau Jawa, terutama di wilayah Provinsi Jawa Tengah (658 kejadian), Jawa Barat (482 kejadian), dan Jawa Timur (279 kejadian). Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa wilayah perbukitan di beberapa daerah di Indonesia rentan terhadap gerakan tanah. Beberapa faktor utama penyebab kerentanan itu meliputi kondisi geologi, kemiringan lereng dan tata guna lahan. Pada umumnya, gerakan tanah banyak terjadi pada lereng yang tersusun oleh batuan dasar berupa breksi vulkanik dan pasir tufaan berumur Kuarter. Hal ini disebabkan oleh karena kondisi batuan tersebut memiliki kesarangan (porosity) yang cukup tinggi dan kuat geser yang rendah karena belum mengalami pemadatan. Lereng yang tersusun oleh batulempung ekspansif juga rentan terhadap gerakan tanah saat musim hujan. Sifat ekspansifnya menyebabkan batulempung akan mengalami degradasi kekuatan ketika terpengaruh perubahan cuaca. Pada musim kemarau, batulempung akan mengalami penyusutan sehingga mudah merekah, sementara pada musim hujan, batulempung ini akan melunak. Penurunan kekuatan lapisan batulempung pada suatu lereng dapat menyebabkan pergerakan lereng tersebut. Peristiwa gerakan tanah yang sering terjadi di KM 91-92 pada ruas jalan tol Jakarta-Bandung (Tol Cipularang) disebabkan oleh keberadaan batulempung ini. Selain faktor kondisi geologi, kemiringan lereng juga menjadi faktor pengontrol terjadinya gerakan tanah. Pada umumnya, gerakan tanah banyak terjadi pada lereng-lereng yang memiliki kemiringan antara 27o dan 36o. Dengan demikian, pemotongan lereng yang menyebabkan peningkatan kemiringannya dapat menyebabkan kerentanan lereng terhadap gerakan tanah meningkat, dan sebaliknya, pelandaian lereng akan mengurangi bahaya gerakan tanah pada suatu lereng. Faktor lain yang mengontrol kejadian gerakan tanah adalah kondisi tata guna lahan. Berdasarkan data selama 10 tahun, gerakan tanah cenderung banyak terjadi pada wilayah perbukitan dengan tata guna lahan kombinasi permukiman dan kebun campuran. Pada jenis tata guna lahan ini, kondisi tanah seringkali jenuh air karena pengairan persawahan dan kebun, dan air permukaan yang tidak terkontrol. Selain itu, aktivitas pematangan lahan menyebabkan kesarangan lapisan tanah permukaan akan meningkat. Akibatnya, air hujan akan mudah mengalir masuk ke dalam tanah, yang dapat menganggu kestabilan lereng. Kondisi tataguna lahan ini juga mengontrol jenis gerakan tanah. Pada umumnya gerakan tanah tipe rayapan akan banyak terjadi pada tata guna lahan permukiman dan kebun campuran. Peristiwa gerakan tanah biasanya terjadi pada musim hujan, dan seringkali terjadi pada saat gempa bumi besar. Dengan demikian curah hujan dan goncangan gempa bumi menjadi faktor pemicu terjadinya gerakan tanah. Gerakan tanah terjadi akibat gangguan kestabilan pada lereng. Di dalam lereng akan bekerja dua jenis gaya, yaitu gaya penahan gerakan yang berasal dari kekuatan massa batuan/ tanah, dan gaya penggerak massa tanah/batuan. Kestabilan suatu lereng dinyatakan oleh angka Faktor Keamanan (F), yaitu angka perbandingan antara gaya penahan gerakan dengan gaya penggerak. Faktor curah hujan akan menaikkan tekanan air pori dalam suatu lereng, sehingga menyebabkan gaya penahan yang bekerja di dalam lereng berkurang. Pada kondisi ini kestabilan lereng akan terganggu sehingga gerakan tanah dapat terpicu pada lereng tersebut. Pada saat terjadi gempa, goncangan gempa bumi akan menghasilkan beban tambahan pada suatu lereng sehingga akan meningkatkan gaya penggerak pada lereng. Adakalanya, goncangan gempa bumi juga menimbulkan tekanan air pori dalam lereng pada lereng yang sudah jenuh air. Pada kondisi ini, maka kestabilan lereng akan terganggu sehingga dapat memicu gerakan tanah pada lereng tersebut. Pada gempa bumi tahun 2009 (Mw 7,4) yang melanda daerah Padang Pariaman dan Kota Padang, banyak terjadi gerakan tanah pada lereng-lereng di perbukitan yang salah satunya terjadi di daratan tinggi Gunung Tigo yang menyebabkan ratusan orang meninggal di Kecamatan Nagari Tandikek…………………..
Selengkapnya disini

Sumber: Geomagz, vol 4 no. 4, 2014

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page