Kick Off MIRAGE 2016

(Geotek-Humas) Sembilan peneliti Indonesia bersama 21 peneliti asing akan melakukan ekspedisi sumber gempa bumi di Samudera Hindia pada 1-30 Juli 2016. Penelitian ini dilakukan atas kerja sama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Earth  Observatory of Singapore, dan Institute de Phisique du Globe du Paris, dengan menggunakan kapal riset R/V Marion Dufresne milik Perancis.

Sembilan peneliti tersebut berasal dari LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Informasi Geospasial (BIG), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL), Universitas Hasanuddin, Universitas Padjadjaran, Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya, serta Ikatan Ahli Bencana Indonesia.

“Ekspedisi ini akan membawa pengetahuan baru bagi peneliti kemaritiman Indonesia. Apalagi dua per tiga wilayah Indonesia merupakan laut dan memiliki banyak potensi bencana. Itu perlu dikumpulkan agar kita bisa memahami seperti apa kondisi yang terjadi di dasar samudera,” kata Kepala LIPI, Dr. Iskandar Zulkarnain di Jakarta, Selasa (28/6). Sebelumnya, gempa berkekuatan 8,6 skala richter (SR) yang berpusat pada dasar Samudera Hindia terjadi pada 11 April 2012 dan menyebabkan tsunami setinggi 30 cm di Aceh. Ini diakibatkan adanya gerakan sesar mendatar di dasar Samudra Hindia. Menurut dia, hal tersebut fenomena yang perlu dipelajari karena selama ini yang diketahui banyak peneliti gempa besar selalu berpusat di zona subduksi. Menurut Kepala LIPI, saat ini pusat gempa yang berada di lantai samudera belum perlu dikhawatirkan. Namun hal tersebut belum bisa diketahui secara penuh. Inilah yang menjadi landasan untuk mengembangnkan program atau kegiatan mitigasi supaya dampak bisa dikurangi. Dr. Iskandar Zulkarnain mengatakan hasil penelitian yang dibawa dari ekspedisi tersebut akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengetahuan kegempaan. “Mekanisme ini belum dipahami secara detail. Artinya ada mekanisme lain yang memicunya. Sementara ini yang teridentifikasi di sana ada sebuah patahan yang disebut dengan patahan geser,” ujarnya. Peneliti geotektologi LIPI, Dr.Nugroho Dwi Hananto yang akan ikut dalam ekspedisi tersebut mengatakan 60 persen wilayah ekspedisi ada di wilayah Indonesia. Tahun ini ekspedisi yang dilakukan akan fokus pada kerak di Samudera Hindia. “Tahun lalu kita di masih meneliti di zona subduksi, sekarang di kerak samudera. Gempa kerak samudera baru terjadi pada 2012. Sebelumnya, walaupun kita mengetahui hal tersebut namun tak ada yang bisa memastikan apa yang terjadi,” ujarnya. Untuk selanjutnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) Perancis dan Earth Observatory of Singapore (EOS) Singapura akan meneliti sumber gempa sesar mendatar di Cekungan Wharton, Samudera Hindia.

Sumber gempa yang terjadi pada 2012 tersebut merupakan gempa bumi sesar mendatar terbesar yang pernah terekam hingga saat ini. Ekspedisi penelitian bersama ini menggunakan Kapal Riset R/V Marion Dufresne milik Pemerintah Perancis.

Ekspedisi yang diberi nama Marine Investigation of the Rupture Anatomy of the 2012 Great Earthquake (MIRAGE) akan dilakukan selama sebulan. Kapal Riset R/V Marion Dufresne akan bertolak dari Kolombo menuju Cekungan Wharton, Samudera Hindia pada 1 Juli 2016 dan akan kembali pada 30 Juli 2016.

Kepala LIPI, Dr. Iskandar Zulkarnain berpandangan, ekspedisi ini penting karena bisa memberi banyak informasi dan data tentang berbagai hal yang sedang dan yang akan terjadi di masa mendatang di lautan Hindia. “Ekspedisi ini terkait gempa bumi tahun 2012 berkekuatan 8,6 skala richter di Cekungan Wharton Samudera Hindia,” katanya dalam kick off and media gathering kolaborasi riset dan Floating Summer Shool serta Mirage di Jakarta, Selasa (28/6).

Menurut Dr. Iskandar Zulkarnain, gempa tersebut tergolong langka karena gempa bumi tidak terjadi di zona subduksi tetapi di sesar mendatar. Hal ini tidak pernah diprediksi sebelumnya oleh para ilmuwan. “Bisa dibandingkan dengan gempa tahun 2004 di Aceh berkekuataan 9,2 skala richter, bagaimana daya rusaknya luar biasa. Kalau potensi gempa tidak diketahui mitigasi gempa sulit dilakukan,” paparnya.

Dr. Iskandar Zulkarnain mengingatkan bahwa ekspedisi ini membawa dua misi besar yakni pengembangan ilmu pengetahuan yang menghasilkan pemikiran dan konsep mitigasi dan pengurangan risiko bencana. Selanjutnya ekspedisi ini menjadi wahana untuk meningkatkan kapasitas peneliti Indonesia.

“Kita harus memanfaatkan kehadiran pakar dalam memberi ilmunya kepada peneliti muda, generasi muda yang memberi perhatian ke kelautan,” ujarnya.

Terkait peneliti, peserta ekspedisi ini melibatkan sembilan orang peneliti dari LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Badan Informasi Geospasial, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Universitas Hasanuddin dan Universitas Padjadjaran dengan didukung oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya serta Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Sedangkan, peneliti asing yang terlibat sejumlah 21 orang dari Singapura, Perancis, Myanmar, Korea Selatan dan India.  Selama ekspedisi, diselenggarakan pula pelatihan atau floating summer school yang dikenal sebagai the 1st ASEAN, IOC WESTPAC Indian Ocean Floating Summer School on Marine Geoscience and Geohazard.

Sementara itu terkait Indian Ocean Floating Summer School on Marine Geoscience and Geohazard, pelatihan ini ditujukan bagi para peneliti muda dan mahasiswa dari perwakilan negara ASEAN dan IOC Westpac atau Komisi Oseanografi Internasional Pasific Barat dalam bidang riset geosains kelautan untuk mitigasi bencana.(HR)

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page