Ada Ancaman Bencana Di Bawah Permukaan Jakarta

bencanajakarta010916

JAKARTA – Sebagai kawasan megapolitan, DKI Jakarta telah berkembang secara pesat. Namun, meningkatnya pembangunan juga berdampak pada lingkungan, khususnya permukaan tanah.

“Peristiwa runtuhnya jembatan Sarinah sepanjang 40 meter pada 1981, mengindikasikan bahwa aspek lingkungan bawah permukaan Jakarta harus menjadi pertimbangan dalam penataan wilayah,” ujar Peneliti Pusat Geoteknologi LIPI Prof Robert M Delinom, saat meluncurkan karyanya, ‘Ancaman Bawah Permukaan Jakarta: Tak Terlihat, Tak Terpikirkan, dan Tak Terduga’ di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (31/8/2016).

Ia menambahkan, peristiwa intrusi atau masuknya air laut ke dalam tanah dan adanya sumur penduduk di kawasan utara Jakarta, menjadikan aspek lingkungan harus betul-betul diperhitungkan. Robert memastikan, ia telah melakukan penitian akan adanya dampak tersebut.

“Penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa penurunan muka air tanah, pengaruh beban bangunan, dan sedimen muda di Jakut memicu amblasnya tanah,” imbuhnya.

Selain itu, penurunan muka tanah membuat kerusakan gedung. Robert menyebut, amblasnya tanah juga memperlebar daerah genangan banjir dan rob yang akhirnya mempengaruhi kualitas air tanah dangkal di sejumlah tempat di Jakarta Utara.

“Perubahan iklim, pembangunan industri, dan pertambahan penduduk bisa berdampak pada kondisi bagian bawah permukaan Jakarta,” tandasnya.

Sumber: okezone.com, 31 Agustus 2016

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page