Pembangunan Overpass Dikebut: Proyek Jalan Tol Semarang-Batang Lintasi 3 Sungai

suaramerdeka-031116

SEMARANGĀ ā€“ Pembangunan overpass Jalan Tol Semarang-Batang di wilayah Semarang, dikebut. Pembangunan overpass dilakukan di beberapa titik. Selain di wilayah Bringin Raya, Ngaliyan, juga di Jalan Kemantren, yang berada di tengah lahan PT Perhutani Mangkang.

Pantauan Suara Merdeka, Rabu (2/11), pembangunan overpass di Ngaliyan mulai memasuki tahap pembuatan pondasi, begitu pula di Jalan Kemantren. Untuk pemasangan bore pile (pondasi dalam) telah selesai. Saat ini, pekerja bersiap melakukan pembangunan girder (pondasi penyangga) overpass. Agar pengerjaan proyek tidak terganggu arus kendaraan di jalan, saat ini pelaksana membuatkan akses jalan alternatif di sisi barat. ā€¯Kalau pemasangan pondasi dalam sudah selesai, akan dilakukan pengerukan. Jalan tol nantinya berada di bawah Jalan Kemantren,ā€¯ kata salah satu pekerja proyek, Manto, kemarin.

Overpass atau jalan layang adalah salah satu bangunan infrastruktur di bidang transportasi yang dibangun tidak sebidang dengan tanah. Selain pembuatan overpass, wilayah Kota Semarang yang dilintasi proyek tol Semarang-Batang terdapat dua daerah aliran sungai (DAS) yang cukup lebar, rata-rata 80 meter.

Yakni, Kali Plumbon dan Kali Beringin. Karena itu, dibutuhkan pembangunan jembatan. Terkait konstruksi, Kepala Dinas Bina Marga Jawa Tengah Bambang NK mengaku tidak mengetahui secara detail. Lantaran hal itu menjadi kewenangan investor. Namun, jaminan keamanan menjadi prioritas dalam pembangunan jalan tol di ruas manapun. ā€¯Desain ada pada mereka (kontraktor),ā€¯ kata Bambang.

Konstruksi Tidak Tepat

Terpisah, peneliti geoteknologi dari LIPI, Adrin Tohari ketika berdiskusi dengan Suara Merdeka menjelaskan, kasus proyek jalan tol yang ambles di beberapa daerah menunjukkan konstruksinya ada yang tidak tepat saat proses pembuatannya. Upaya pemulihan dengan tiang pancang beton membuat biaya pemeliharaan menjadi bertambah. ā€¯Kasus itu terjadi, biasanya di bekas lahan lunak sawah dan daerah aliran sungai (DAS). Ketika tol Semarang-Batang melintasi dua sungai besar, ya timbunan materialnya memakai geotekstil.

Bahan itu lazim digunakan untuk pembangun jalan yang berfungsi menahan timbunan tanah bergerak. Semacam material yang punya daya tarik tinggi yang membantu kekuatan lapisan tanah dasar di bawah timbunan,ā€¯ jelasnya.

Geotekstil berbentuk seperti kain dari bahan plastik pada karung beras putih yang dianyam. Bahan itu punya kekuatan tarik yang besar. Kainnya dijahit sehingga tidak ada celah, supaya bagian dasarnya punya kekuatan daya tahan tambahan.

Menurut Adrin, tiang pancang terhitung mahal dibanding pemasangan geotekstil. Sementara itu, dari pengamatan di lapangan, proyek jalan tol Semarang-Batang tidak hanya melintasi dua DAS besar, tetapi juga permukiman, hutan dan ladang milik warga yang memiliki kontur tanah perbukitan.Ā (K23, H84-74)

Sumber: suaramerdeka.com, 3 November 2016

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page