Rembug Lini di Tatar Sunda

geotekexpo2016

Awal Desember tepatnya 6 Desember 2016, sesaat setelah fajar menyingsing, sebuah guncangan kuat mengoyak bumi Pidie, Propinsi Aceh. Guncangan ini merusak lebih dari 10.000 bangunan, beberapa diantaranya bahkan runtuh. Seratus nyawa melayang terkubur di bawah reruntuhan bangunan, ribuan jiwa lainnya terluka. Kejadian ini mengingatkan kembali peristiwa gempang Padang 30 September 2009 dan gempa Bantul 27 Mei 2006 yang merenggut banyak sekali korban jiwa. Kejadian ini juga sekaligus menjadi peringatan dini bagi kejadian serupa di kota-kota lain di Indonesia, termasuk Bandung.

Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kaupaten Bandung Barat dan Kota Administratif Cimahi berada di sebuah di sebuah cekungan yang dikelilingi gunung-gunung. Cekungan ini terisi endapan Danau Bandung Purba yang berumur setidaknya 135 ribu tahun, berupa endapan lempung dan pasir yang bersifat relatif lunak. Keempat kota di atas berada di atas endapan danau ini. Apa jadinya jika Tatar Bandung ini diguncang gempa?

Sumber ancaman gempa bagi Cekungan Gempa bisa berasal dari gempabumi di jalur subduksi selatan Jawa dan sesar-sesar yang berada di sekitar Bandung. Gempa Tasikmalaya 2 September 2016 yang merusak puluhan rumah di Bandung selatan dan Lembang menjadi penanda bahwa bahkan gempa besar dari subduksi selatan Jawa mengancam Bandung. Namun demikian sumber ancaman gempa yang paling dekat adalah sebuah retakan memanjang yang dikenal sebagai Sesar Lembang.

Sesar Lembang adalah sebuah retakan memanjang barat timur dari kaki Gunung Manglayang hingga ke Padalarang sepanjang lebih dari 22 km. Sesar ini mulai diungkapkan dalam buku “geology of Indonesia” yang ditulis oleh Van Bemmelen (1949). Setelahnya penelitian dilakukan oleh Tjia (1969). Penelitian-penelitian terbaru dilakukan setelah tahun 1990 an dan 2000-an. Hasil penelitian terbaru dari data pantauan GPS yang dilakukan oleh group geodesi ITB yang dinahkodai Dr. Irwan Meilano menyimpulkan bahwa pergerakan geser mengiri dengan kecepatan 4 mm/th. Data seismologi dari Dr. Sri Hidayati tim Badan Geologi KESDM telah merekam dua kejadian gempa bumi pada tahun 2011 dalam waktu berdekatan di ujung barat dan timur Sesar Lembang. Pengamatan data seismometer oleh Dr. Afnimar dkk menyimpulkan bahwa selama periode 2010-2012 setidaknya terjadi 10 kali gempa berskala kurang dari 2. Pemodelan data gempa oleh Dr Afnimar menunjukkan mekanisme fokal geser mengiri yang jelas. Studi endapan danau sagpond oleh Dr Eko Yulianto menyimpulkan bahwa selama 2000 tahun terakhir terjadi empat kali gempa cukup besar, dua diantaranya dapat diduga skalanya yaitu Mw 6,8 (2000 tahun lalu) dan Mw 6,6 (500 tahun lalu). Hasil penelitian paleoseismologi terkini Dr Mudrik Daryono, Dr Danny Hilman Natawidjaja, dkk menemukan bukti otentik kejadian gempabumi 2000 tahun lalu yang pernah terjadi di tatar Bandung ini dan mengkonfirmasi bukti-bukti yang ditemukan sebelumnya. Panjang keseluruhan Sesar Lembang diperbaharui menjadi 29 Km. Semua hal di atas menjadi bukti yang sangat kuat bahwa Sesar Lembang adalah sebuah sesar aktif yang pergeserannya mampu memicu gempa hingga skala 7.

Penelitian lanjutan untuk menghitung besarnya guncangan akibat pergeseran Sesar Lembang yang dilakukan oleh Dr Rahma Hanifa – ITB dan Amalfi Omang MPhil – Badan Geologi KESDM dan penelitian respon tanah terhadap gempa oleh Dr. Adrin Tohari menunjukkan potensi guncangan yang cukup besar di sekitar tatar Bandung ini jika Sesar Lembang bergeser suatu saat.

Ancaman ini bukan tanpa solusi. Karena gempa tidak pernah sekalipun membunuh, tetapi runtuhnya bangunanlah yang membunuh dan merenggut korban luka. Dengan demikian satu- satunya cara untuk terhindar dari risiko menjadi korban gempa adalah melakukan penataan bangunan dan menjaga kualitas bangunan yang ramah terhadap gempa. Pendirian bangunan disamping memperhatikan keberadaan sumber dan jenis ancaman juga harus memperhatikan kualitas dan responnya terhadap gempa. Berbagai model bangunan ramah gempa sudah dibuat oleh banyak pihak termasuk Puslitbang Pemukiman yang saat ini dikepalai oleh Prof. Dr. Arif Sabarudin. Teknik dan teknologi pembuatan konstruksi bangunan yang ramah gempa ini harus segera disosialisasikan sebagai upaya pengurangan risiko bencana gempa di Cekungan Bandung.

Kesimpulannya adalah tatar Bandung harus bisa hidup harmony dengan potensi bencana gempa Sesar Lembang ini. Solusi konkret yang harus diharus dilakukan adalah (1) menghindari pembangunan di sepanjang jalur Sesar Aktif lembang. Yaitu hanya selebar 40 meter (20 meter sisi kanan dan 20 meter sisi kiri Sesar Lembang). Selebihnya dapat digunakan dengan ketentuan bangunan tahan gempa. (2) membangun bangunan tahan gempa. Pembangunan yang dilakukan harus berdasarkan kaidah pembangunan sipil yang benar. Kampanye pembuatan ruang aman dan rumah tahan gempa di setiap rumah warga. (3) Pendidikan gempa Sesar Aktif Lembang. Memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang ancaman gempa Sesar Lembang dan pendidikan tanggap darurat ketika terjadi gempa. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan media jalur hijau sesar Lembang dengan papan informasi, memasukkan kedalam materi pelajaran sekolah dan juga pembuatan  Museum. Khusus untuk pendidikan sekolah bisa dibuatkan modul yang sesuai dengan usia dan tingkat pendidikan siswa.

Acara talk show ini juga melibatkan masyarakat Cekungan Bandung yaitu meliputi Pemerintah daerah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, para Kepala Desa, sekolah yang memegang otoritas atas fasilitas-fasilitas penting di sepanjang Sesar Lembang seperti instalasi militer, Perhutani, sekolah dll.

Acara talkshow “Rembug Lini di Tatar Bandung” ini diselenggarakan oleh Puslit Geoteknologi Bandung yang didukung oleh Puslitbang Permukiman – Kementrian PUPR. Kegiatan ini merupakan upaya implementasi hasil penelitian gempabumi ke tataran pemangku kebijakan dan masyarakat. Bandung dapat menjadi contoh ideal bagi terjalinnya sinergi peneliti, pemerintah dan masyarakat sehingga bukan saja menjadi Kota yang smart tapi sekaligus resilient. Hasil ini diharapkan dapat dijadikan contoh bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia menjadi untuk menjadi kota “Kota cerdas dan tangguh” (Smart and Resilient City).

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page