Kelola Risiko di Bandara Kulon Progo

header artikel geo

JAKARTA, KOMPAS — Bandara Kulon Progo, Yogyakarta, berada di zona rentan gempa bumi dan tsunami. Untuk itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika diminta melakukan kajian untuk mengelola risiko bencananya. Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto, Minggu (29/1), di Jakarta, mengatakan, riset terbaru yang dilakukannya menemukan jejak tsunami besar di selatan Jawa tahun 1699. ”Tsunami pada 1699 itu ditemukan jejaknya di Lebak (Banten) hingga Cilacap timur (Jawa Tengah). Tahun ini mau mencari bukti perpanjangan tsunami ke timur,” ujarnya. Gempa yang memicu tsunami tahun itu diduga menyebabkan kerusakan dahsyat di Jakarta seperti tercatat di katalog Wichman (1918). Pada katalog itu disebutkan bahwa gempa tersebut terjadi pada 5 Januari 1699. Selama ini pusat gempa diduga ada di sesar darat. Dengan penemuan jejak tsunami di selatan Jawa, kemungkinan besar gempa saat itu bersumber dari zona subduksi di selatan Jawa. Selain itu, Eko menemukan sejumlah deposit lain, misalnya terjadi 1.698 tahun lalu, 2.785 tahun lalu, dan 3.598 tahun lalu. Tsunami di selatan Jawa diduga berulang yang menunjukkan zona kegempaan aktif di area itu. Ahli kelautan dan tsunami Ba- dan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Widjo Kongko, menambahkan, kerentanan gempa dan tsunami di selatan Jawa amat tinggi. ”Jawa selatan berdasarkan kajian terakhir berpotensi gempa lebih dari M 8,7. Gempa itu memicu tsunami sampai 20 meter di pantai dengan penetrasi gelombang dari pantai hingga 5 kilometer bagi area dengan topografi landai,” tuturnya.

Alih fungsi lahan

Rencana tapak Bandara Kulon Progo berjarak 400 meter dari bibir pantai amat rawan tsunami sehingga wajib dibuat mitigasinya. ”Keberadaan bandara jadi magnet alih fungsi lahan sekitarnya. Ini harus diperhitungkan tata ruangnya, tak hanya bangunan bandaranya, tapi kawasannya juga perlu dikelola,” ucap Widjo. Menurut kajian awal, gumuk pasir yang dikombinasikan dengan vegetasi pantai bisa me- ngurangi dampak tsunami. ”Kajian detail dibutuhkan dan diintegrasikan dengan desain bandara,” ujarnya. Sebelumnya Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo segera dimulai. Semua pemangku kepentingan diminta menuntaskan perizinan dan administrasi agar pembangunan bandara seluas 587 hektar itu dimulai ( Kompas, 29/1). Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menjelaskan, risiko gempa bumi dan tsunami di lokasi Bandara Kulon Progo telah diperhitungkan. ”BMKG diminta membuat kajiannya. Kini baru dimulai kajiannya dan akan melibatkan ahli,” kata Daryono, yang juga ketua tim kajian BMKG untuk bandara tersebut. Hasil kajian tsunami BMKG untuk BandaraKulon Progo akan meliputi potensi tsunami berdasarkan sejarah deformasi di area ini. Tujuannya, untuk mengetahui potensi ketinggian tsunami ( tsunami wave height) di sekitar bandara secara presisi. ”Setelah itu, baru diketahui tingkat rendaman di sekitar area bandara agar diusulkan strategi dan upaya mitigasinya,” ujarnya. Jadi, risiko gempa dan tsunami bisa dikelola, tetapi harus dilakukan sejak awal dan rinci.

Sumber: Kompas.com, 31 Januari 2017

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page