Demi Air Berkejaran Dengan Waktu

merdeka-090217

Merdeka.com – Hati Syahrul (29) kini agak lapang. Lelaki pekerja kantoran tinggal di Bintaro, Jakarta Selatan itu tidak perlu was-was saban hari di musim kemarau basah pada 2017. Namun hal itu berbeda pada tahun lalu.

Saat kemarau panjang terjadi pada 2016, dia dan keluarga serta tetangganya dibuat pusing tujuh keliling. Musababnya lantaran mereka kesulitan memompa air dari sumur, yang tidak pernah terjadi sepanjang mereka bermukim di sana lebih dari 20 tahun. Apalagi wilayah mereka berada di selatan yang rata-rata amat mudah menemukan sumber air. Mulanya dia harus meminta air kepada tetangga buat keperluan saban hari. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena sang tetangga juga mulai kesulitan air tanah.

“Mau enggak mau jebol tabungan buat ngedalamin sumur lagi. Ongkosnya lumayan, Rp 4 jutaan. Itu pun enggak langsung jadi. Mesti tiga kali bongkar pasang karena airnya enggak langsung naik. Kan sumurnya dibuat makin dalam. Saya enggak tahu bertahan berapa lama airnya,” kata Eko.

Eko mungkin masih beruntung bisa menyisihkan uang buat perbaikan sumur. Sedangkan tetangganya ada yang sampai harus membeli air galon isi ulang saban hari buat keperluan mandi, cuci, kakus, hingga memasak. Dia menyadari lingkungannya kini sudah berubah. Orang-orang bermukim di sana terus bertambah. Semakin sesak dengan perumahan, kontrakan, dan indekost. Buat memenuhi kebutuhan harian, mereka semua memasang pompa air berdaya isap tinggi. Alhasil wajar saja semua berebut air tanah. Eko juga tak berminat mengandalkan pasokan air dari perusahaan daerah.

“Airnya suka mati mendadak atau alirannya kecil banget. Kan repot kalau buat sehari-hari. Mana baunya enggak enak, ada aroma kimianya. Gue udah nyobain di rumah saudara di Cengkareng, enggak bakalan deh,” ucap Eko.

Air adalah salah satu unsur penopang kehidupan makhluk hidup di bumi. Dia tidak bisa tergantikan. Jumlah air yang ada pun terbatas untuk bisa dijadikan air baku. Namun di kota besar seperti Jakarta, hal ini bisa jadi merepotkan. Ada 13 sungai mengalir di kota ini. Sayang, semuanya tidak layak dikonsumsi. Akibatnya, Jakarta menggantungkan pasokan air dari Jawa Barat dan Banten. Melalui waduk Jati Luhur, dan Sungai Cisadane di Banten. Maka tak aneh lantaran perusahaan air minum tidak mampu melayani kebutuhan masyarakat, warga mengeksploitasi air tanah dalam jumlah berlebihan.

Gembar-gembor pembangunan sejak Orde Lama hingga kini nyaris berlomba-lomba pada penambahan sarana. Sedangkan pengelolaan air belum menjadi prioritas. Alhasil ketika cuaca berubah, bencana datang bergantian. Mulai dari kekeringan hingga banjir. Air yang mestinya berkah malah menjadi petaka.

Direktur Indonesia Water Institute (IWI), Firdaus Ali, mengatakan, tidak satupun sungai di Jakarta airnya layak diolah menjadi air bersih. Menurut dia, hanya tiga persen air baku dari sungai Jakarta bisa diolah menjadi air bersih.

“Kalau pun ada, itu harus menggunakan tambahan teknologi yang biayanya mahal,” kata Firdaus saat dihubungi.

Buruknya kondisi air di Jakarta disebabkan pengelolaan limbah dan sampah yang kusut. Limbah biasanya digelontorkan langsung ke parit-parit yang bermuara ke sungai terdekat. Perilaku warga juga menambah runyam permasalahan, Yaitu membuang sampah atau melakukan kegiatan mandi cuci kakus di sungai.

Karena PDAM tidak bisa menunjang kebutuhan, maka warga lebih memilih memasang pompa air. Malah menurut dia, air disedot warga adalah cadangan purba tersimpan di lapisan bebatuan. Ironisnya masyarakat hanya bisa mengkonsumsi dan tidak melakukan pelestarian sumber air seperti membuat resapan, atau memperbaiki cadangan air permukaan seperti danau.

Menurut ahli hidrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Edi Prasetyo Utomo, eksploitasi air di Jakarta kelewat batas. Dari perhitungannya, warga Jakarta dalam satu hari rata-rata menggunakan air hingga seratus liter. Jumlah itu dikali dengan rata-rata jumlah penduduk sebesar sepuluh juta jiwa. Buat konsumsi industri dia menaksir lebih besar lagi. Alasan Eko enggan menggunakan air pipa juga berkaitan dengan urusan kocek. Firdaus Ali mengatakan, harga air PDAM di Jakarta terlampau tinggi dibandingkan kota-kota lain. Harga tertinggi air pipa di Jakarta menyentuh Rp 14.650 per meter kubik, sedangkan di Surabaya hanya Rp 10 ribu per meter kubik, menurut data Mei 2010. Meski begitu, penggunaan air tanah Jakarta terus-menerus bukan solusi jangka pendek ataupun panjang. Menurut Firdaus Ali, hal itu menyebabkan menurunnya permukaan tanah.

Dari hasil riset peneliti senior Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jan Sopaheluwakan, wajar tanah di Jakarta menurun karena mengalami proses pemadatan. Sebab kota ini berdiri di lahan yang pada masa lalu merupakan bekas rawa. Namun, pembangunan memakan banyak lahan serta penyedotan air tanah besar-besaran dinilai menjadi salah satu faktor percepatan penurunan muka tanah. Apalagi kondisi iklim global yang bergeser dan melelehnya es di kutub utara dan selatan mengakibatkan permukaan air laut naik perlahan.

Jan mengatakan, penurunan muka tanah juga memudahkan terjadinya banjir tetapi waktu surutnya semakin lama. Apalagi, daerah resapan di sekitar Jakarta juga dirambah menjadi pemukiman. Karena wilayah itu hilang, maka laju air dari tempat tinggi menuju dataran Jakarta yang rendah tadinya bisa tertahan, kini langsung melaju tanpa hambatan. Namun, Jakarta justru tidak bisa menampungnya. Hal itu juga mengakibatkan air bersih mestinya terserap malah mengalir bebas ke laut. Alhasil mencari air bersih pun semakin sulit.

Jalan mengatasi itu semua tidak mudah dan amat radikal. Yakni mengubah pola hunian warga kota, menghentikan penyedotan air tanah secara berangsur-angsur, mengubah tabiat warga memperlakukan sungai dan sumber air, melestarikan mata dan sumber air, dan menjadikan pengelolaan air sebagai salah satu prioritas. Hal ini memang butuh banyak energi, tetapi harus dilakukan jika kita semua masih ingin tinggal di kota ini. Atau jika tidak, maka nantikan saja Jakarta tenggelam dan tinggal cerita.

Sumber: Merdeka.com, 09 Februari 2017

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page