Longsor di Ponorogo, Ini Penyebabnya Menurut Pakar LIPI

050417-tempo

TEMPO.COJakarta – Pakar dan peneliti instrumen longsor dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, Adrin Tohari mengatakan, faktor air dalam lereng menyebabkan longsor di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur pada 1 April 2017. Faktor air itu mencakup air hujan dan keberadaan sumber mata air di lokasi longsor.

“Seperti longsor di Jemblung, Banjarnegara, ada petunjuk penyebab longsoran adalah faktor air dalam lereng,” katanya, Rabu, 5 April 2017.

Menurut Adrin, selain faktor iklim, geologi, dan topografi, kondisi hidrologi (keairan) lereng menjadi faktor pembeda utama kerentanan lereng perbukitan terhadap longsor.

Proses terjadinya longsor di Ponorogo, ujar Adrin, dimulai saat ketinggian muka air dalam lereng meningkat setelah diguyur hujan lebat. “Hal ini sebenarnya dapat diamati dengan kemunculan aliran air dari mata air di kaki lereng yang semakin deras,” ujarnya.

Kenaikan muka air dalam lereng itu yang menyebabkan kemunculan retakan di lereng bukit di atas Dusun Tangkil pada 11 Maret 2017. Retakan tanah semakin melebar dan memanjang seiring hujan yang terus mengguyur. “Hujan lebat pada 31 Maret itu yang memicu longsoran pagi hari 1 April 2017,” ujarnya.

Soal longsor yang terjadi setelah beberapa jam hujan berhenti, menurut Adrin itu karena proses masuknya air hujan ke dalam tanah lereng memerlukan waktu. Pada beberapa kasus, longsor terjadi 6 hingga 12 jam setelah hujan berhenti.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Kasbani mengatakan, sebelumnya pernah terjadi longsor di lereng sebelah barat yang berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi longsor sekarang. Berdasarkan peta kerawanan gerakan tanah yang diterbitkan Badan Geologi, wilayah tersebut masuk zona kerawanan menengah-tinggi. “Di titik longsor itu sekarang tergolong tinggi tingkatnya. Harusnya ada tindakan antisipasi,” kata Kasbani di kantornya, Rabu, 5 April 2017.

Aparat pemerintah daerah, menurutnya, perlu memeriksa kondisi retakan tanah, lalu segera menutupnya dengan tanah lempung yang dipadatkan. “Aliran drainase atau saluran air juga perlu diatur agar tidak masuk ke retakan itu,” ujarnya.

Sumber: Tempo.co, 05 April 2017

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page