Tsunami Vs Bandara

mi_190817

Penulis: Eko Yulianto Peneliti Paleotsunami dan Kebencanaan Kepala Puslit Geoteknologi LIPI

MELARIKAN diri dari ancaman merupakan insting hewani guna menghindari risiko tertinggi dari kehidupan, yaitu kematian. Pikiranlah yang mendorong manusia bertindak berbeda dalam menghadapi risiko ini. Ancaman melahirkan risiko dan setiap kegiatan berisiko. Risiko berkelindan dengan kemajuan peradaban karena risiko melahirkan tantangan. Tantangan mendorong manusia berpikir. Semakin besar risiko, semakin besar pula tantangan. Semakin besar tantangan, semakin besar kemajuan peradaban ketika manusia mampu menangani risiko ini.

Sekadar lari dari risiko bisa saja menyelamatkan. Namun jika selamat pun, lari tidak membuat manusia belajar. Terbukti dalam sejarah, risiko besar melahirkan lompatan besar peradaban. Risiko kematian karena kelaparan melahirkan budi daya dan teknologi pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan pangan. Risiko kematian karena penyakit melahirkan teknik dan teknologi kedokteran dan pengobatan. Dalam konteks serupa ini, risiko kematian menghadapi bencana idealnya mendorong lahirnya pengetahuan, teknik, dan teknologi untuk mengurangi risiko bencana.

Lari dari risiko bencana jelas tidak menyelesaikan masalah karena tidak satu pun wilayah di permukaan bumi ini yang bebas dari ancaman bencana. Di gunung ada ancaman letusan gunung api, tanah longsor. Di dataran ada ancaman banjir, kekeringan, angin puting beliung. Di pantai ada ancaman banjir rob, tsunami, badai, gelombang tinggi. Sebagai wujud syukur, pikiran harus didayagunakan dengan tabah sehingga risiko bencana justru dapat menjadi pijakan bagi kemajuan peradaban.

Kemampuan menangani risiko bencana menjadi pendorong kemajuan peradaban Jepang. Di Jepang, seringnya gempa bumi melahirkan teknologi peringatan dini yang awalnya dikembangkan untuk melindungi infrastruktur penting seperti reaktor nuklir dan kereta api cepat. Ancaman bencana gempa ini juga melahirkan teknologi bangunan tahan gempa sehingga Jepang menjadi negara yang paling maju dalam teknologi bangunan tahan gempa. Upaya mengembangkan teknologi ini masih giat dilakukan karena penguasaan atas teknologi ini juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Jepang membuat kejadian bencana sebagai batu penjuru untuk mengevaluasi kesalahan dan kegagalan pengetahuan dan teknologi yang ada. Semakin besar bencana, semakin keras upaya untuk mengambil manfaat darinya. Dengan demikian, bencana dan risiko bencana tidak dilihat dari sudut pandang negatif yang menjadi sumber keputusasaan dan ketakutan.

Menangani risiko tsunami
Bagi Indonesia, tantangan penanganan risiko bencana sangatlah besar karena bumi Indonesia menyimpan hampir semua jenis ancaman bencana. Bencana selalu berulang, menimbulkan kerugian harta dan jiwa sangat besar. Menyaksikan, apalagi mengalami bencana tsunami Maumere 1992, Banyuwangi 1994, Pangandaran 2006, Mentawai 2010, dan terutama Aceh, pasti traumatis dan menimbulkan ketakutan. Namun, ketakutan ini tidak boleh menghantui dan melahirkan keputusasaan.

Kabar ditemukannya bukti terjadinya tsunami raksasa di selatan Jawa 300 tahun lalu oleh Tim Puslit Geoteknologi LIPI boleh jadi memunculkan kembali trauma itu. Sayangnya, hingga kini tidak seorang pun tahu sebesar apa sesungguhnya risiko ini. Tidak seorang pun di Indonesia yang pernah menghitung risiko ini dengan sungguh-sungguh. Tidak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tidak juga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Berapa juta jiwa yang terancam? Berapa korban jiwa dan luka-luka yang bisa timbul?

Berapa triliun potensi kerugiannya? Adakah bedanya jika bencana terjadi di siang dan di malam hari? Kita hampir tidak punya data sama sekali. Jika tsunami ini terjadi, akankah kerugian dan kerusakannya mengakibatkan perekonomian Indonesia lumpuh? Padahal risiko inilah musuh yang harus dikalahkan. Bagaimana kita mengalahkannya jika tidak tahu siapa musuh kita, berapa jumlahnya, di mana adanya, senjata apa yang dibawanya? Tanpa didasarkan kepada hasil analisis risiko secara detil, kegiatan pengurangan risiko bencana apa pun adalah tindakan membabi buta karena kita tidak pernah tahu berapa persen kontribusi dari setiap kegiatan pengurangan risiko bencana itu terhadap penurunan risiko.

Jika satu unit tempat evakuasi sementara dibangun, satu rambu evakuasi dipasang, satu unit sirene peringatan dini ditegakkan, berapa persen risiko tsunami dapat diturunkan? Ujungnya, kita tidak tahu berapa persen penurunan risiko tsunami dan bencana lainnya setelah triliunan rupiah digelontorkan atas nama program pengurangan risiko bencana. Akibatnya, program pengurangan risiko ini bukan saja berpotensi tidak efisien, melainkan sekaligus juga tidak efektif. Tuntutan penghentian proyek bandara Kulon Progo (NYIA) mengemuka menumpangi berita ditemukannya bukti tsunami raksasa di selatan Jawa 300 tahun lalu.

Tuntutan ini tidak memiliki landasan yang kukuh karena tidak didasarkan pada hasil analisis risiko detail. Setali tiga uang, analisis dampak lingkungan, analisis rasio biaya dan manfaat, serta strategi pengurangan risiko tsunaminya juga tidak pernah dipaparkan dan disosialisasikan dengan baik oleh Pemerintah. Kita bersama-sama perlu menatap tajam realitasnya guna menghitung risiko, mengidentifikasi akar persoalannya, dan menemukan solusi yang memenangkan semua kepentingan.

Yang pasti, ancaman bencana tidak dapat dijadikan alasan mendasar guna menghentikan kegiatan pembangunan karena ancaman bencana ada di setiap jengkal bumi Indonesia. Hasil analisis risikolah yang dapat digunakan sebagai alasan apakah sebuah proyek pembangunan harus dihentikan, boleh dilanjutkan, atau boleh dilanjutkan dengan syarat. Sebaliknya, setiap kegiatan pembangunan harus menempatkan pengurangan risiko sebagai modalitas utamanya. Dengan demikian, setiap kegiatan pembangunan selalu dijiwai semangat pencapaian tujuan bernegara, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sumber: Media Indonesia, 19 Agustus 2017

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page