Mangrove Bisa Hambat Gelombang Tsunami

detik-290817

Yogyakarta – Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengungkapkan mitigasi bencana seperti tsunami tidak hanya bisa dilakukan dengan penerapan teknologi. Hal itu merujuk kasus tsunami tahun 2004 lalu. Meski terdampak, wilayah Thailand Selatan tidak ditemukan korban jiwa.

“Jadi saya ingin mencoba merentang upaya itu (mitigasi tsunami) dari ujung ke ujung. Kita lihat apa yang terjadi di tahun 2004, korban hampir tidak ada di Thailand Selatan,” kata Eko disela-sela workshop ‘Potensi Bahaya Gempa Bumi dan Tsunami di Bandara Kulon Progo (NYIS) dan metode Mitigasinya’ di University Club (UC) UGM, Selasa (29/8/2017).

Eko mengatakan yang melindungi warga Thailand Selatan dari tsunami bukan menerapkan teknologi, melainkan keberadaan mangrove di sepanjang pantai. Gelombang tsunami tidak sampai memunculkan korban.

“Di Thailand Selatan ada mangrove yang sangat tebal. Bahkan tsunami tersebut tidak mampu menembus. Sementara untuk kasus di (kabupaten) Simeulue Aceh, korban (tsunami 2004) hanya ada tujuh orang,” kata Eko.

Menurut Eko, yang lebih penting dari mitigasi bencana adalah perilaku manusia. Oleh sebab itu pembangunan SDM lebih penting, termasuk dalam mitigasi potensi tsunami di selatan Pulau Jawa.

“Padahal (mitigasi) bencana intinya adalah perilaku manusia. Jadi perilaku manusia inilah yang harus kita sentuh pertama kalinya. Karena tujuan dari pembangunan itu adalah membangun jiwa manusia, membangun masyarakatnya,” katanya.

Perihal ancaman tsunami atas bandara lanjut Eko, NYIA di Kulon Progo bukan satu-satunya bandara berpotensi kena tsunami. Dia mencontohkan Bandara Sendai di Jepang. Bahkan Bandara Sendai tahun 2011 lalu diterjang tsunami cukup besar.

“Bandara Sendai hanya berjarak 1 kilometer dari pantai. Paling depan ada tembok laut, setelahnya ada hutan pinus yang sangat tebal. Ada infrastruktur sedikit jalan, baru kemudian bandara. Tapi dengan cepat (Bandara Sendai) bisa dikembalikan fungsinya,” paparnya.

Dia menambahkan yang harus dihitung adalah risikonya dulu. “Apakah sama sekali tidak boleh, boleh dengan syarat, atau boleh. Itu yang harus kita hitung, agar tidak terjadi debat kusir,” pungkas Eko.

Sumber: detik.com, 29 Agustus 2017

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page