Telah Ratusan Tahun Lautan Indonesia “Diobok-Obok” Peneliti Asing

ocean

Jakarta, 21 Desember 2017. Lautan Indonesia sejak tahun 1875 telah diarungi dan diukur oleh peneliti asing. Sehingga tidaklah heran apabila para peneliti asing pun selalu ingin memutakhirkan data-data tentang dinamika Lautan Indonesia, hingga ke sumber dayanya. Pada 14 Desember 2017, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Diskusi Grup Terarah (FGD) terkait Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan Litbang Asing dan Dana Pendampingan Mitra Peneliti Asing. FGD tersebut dilaksanakan di Pusat Geoteknologi LIPI di Bandung.

Prof. Dr. Danny Hilman Natawidjaja sebagai peneliti senior Pusat Geoteknologi LIPI memaparkan pengalamannya dalam mengelola, mengambil manfaatnya, dan juga hambatan yang ditemuinya saat kerjasama dengan University of California Technology (Caltech) dan juga Earth Observatory of Singapore (EOS).

Sementara, Dr. Nugroho Hananto memaparkan pengalamannya terkini saat menjadi Chief Scientist di Kapal Riset Perancis Marion Dufresne pada kuartal pertama tahun 2017 ini dimana melakukan scanning bawah permukaan Samudera Hindia Sebelah barat Sumatera dalam rangka mengivestigasi dinamika sesar dan lempeng Samudera Hindia yang menunjam ke lempeng benua Asia. Pada cruise tersebut para peneliti Indonesia dan asing saling bekerjasama dalam menganalisis hasil “sediment coring”. Turut pada cruise tersebut, peneliti geologi kelautan dari Pusat Riset Kelautan yakni Rainer arif Troa, M.Sc.

Dr. Jusuf Surachman, peneliti utama di BPPT, menekankan pentingnya kompilasi seluruh data-data hasil kerjasama riset dengan asing. “Perlu dibikin National data Center hasil riset kerjasama asing”, tutur beliau. Hal ini sejalan dengan pemikiran Dr. Widodo Pranowo yang memaparkan upaya Pusat Riset Kelautan melalui laboratorium Data Laut dan Pesisir dalam mengkompilasi dan menyusun basis data seluruh data oseanografi hasil riset kerjasama asing, maupun data-data Indonesia yang tersebar dimiliki oleh instansi riset asing.

Dr. Agus Sediadi, dari Kemeristekdikti menekankan bahwa pemerintah perlu memberikan dana riset yang mencukupi apabila negara ini ingin maju di bidang industri. Para penelti harus dilengkapi dengan fasilitas langganan jurnal ilmiah berkualitas agar tulisan-tulisannya pun bisa berkualitas. “Jer Besuki Mawa Bea”, tutur beliau. Menurut Pak Agus, saat ini Indonesia berada di urutan 55 menurut Country Rank SCIMAGO. “Jumlah dokumen Ilmiah Indonesia 1/5 dari Singapura, dan sitasi 1/10, sedangkan bila dibandingkan dengan Malaysia maka jumlah dokumen ilmiah Indonesia 1/4 dan sitasinya 1/3”, demikian ditambahkan oleh beliau.

Adapun hal menarik dan menyegarkan adalah informasi yang dipaparkan oleh Koordinator Tim Koordinasi Pemberian Izin Peneliti Asing (TKPIPA), Bapak Sri Wahyono, bahwa Kemenristekdikti, menyiapkan anggaran pendamping dalam bentuk perjalanan dinas bagi peneliti Indonesia yang membutuhkan dana ketika mendampingi penelti asing saat survei atau kunjungan ke daerah. Setiap peneliti Indonesia dari berbagai kementerian dan lembaga riset, diperkenankan berkompetis mengajukan proposal untuk dana pendampingan tersebut.

 

Sumber : http://pusriskel.litbang.kkp.go.id/index.php/en/home/1800-telah-ratusan-tahun-lautan-indonesia-qdiobok-obokq-peneliti-asing

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page