Cegah Tanah Longsor, LIPI Kenalkan Wiseland dan The Greatest

detik130218

Jakarta – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memaparkan hasil penelitian untuk mencegah potensi ancaman longsor di Indonesia. Ada dua hasil penelitian yang dikenalkan yaitu LIPI Wiseland (Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring) dan The Greatest (Teknologi Gravitasi Ekstraksi Air Tanah untuk Kestabilan).

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, menjelaskan alat tersebut dibuat dengan memperhatikan sejumlah tipe longsor yang biasa terjadi. Setidaknya ada empat tipe longsor yang ada di Indonesia.

“Ada beberapa klasifikasi longsor, tipe aliran. Tipe aliran itu yang biasanya suka terjadi dari ketinggian. Kemudian bergerak mengalir seperti alir. Biasanya tanah dan bebatuan. Biasanya longsor ini mengakibatkan banyak korban karena kejadian longsor ini tidak terduga. Kedua, batuan. Ini bisa bergerak cepat. Ketiga, luncuran. Itu juga terjadi cepat. Keempat, nendatan. Bergerak lambat. Ini yang bisa kami deteksi karena indikasi terjadinya longsor bisa kamia lihat munculnya retakan. Tiang listrik yang miring,” kata Adrin di kantor LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jaksel, Selasa (13/2/2018).

Adrin menerangkan longsor juga dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu longsoran dangkal dan longsoran dalam. Masing-masing jenis longsor ini mempunyai perbedaan pada penyebab dan lapisan tanah.

“Longsor dangkal disebabkan oleh proses kejenuhan lapisan tanah akibat hujan deras durasi singkat, melibatkan lapisan tanah dekat permukaan, bergerak cepat dan dapat mengalir serta berupa aliran, luncuran dan runtuhan. Sedangkan longsoran dalam disebabkan oleh kenaikan muka air tanah akibat hujan durasi lama, melibatkan lapisan tanah di atas batuan fasar, bergerak lambat dan mencakup daerah luas,” jelasnya.

Adrin lantas menjelaskan The Greatest yang berfungsi menurunkan muka air tanah dalam lereng sehingga mencegah terjadinya longsor. Adapun cara kerjanya, teknologi ini menggunakan metode siphon yaitu adalah sebuah alat untuk memindahkan cairan dari sebuah wadah yang tidak dapat direbahkan.

“Prinsip kerja siphon itu menghisap air tanah berdasarkan perbedaan tekanan air di bagian atas dan bawah lereng,” ujarnya.

Menurutnya, The Greatest ini berfungsi untuk mencegah korban jiwa dan kerugian. Teknologi ini pun telah diuji coba di sejumlah daerah seperti Margamukti, Kabupaten Bandung. Hasil ujicoba menunjukkan alat ini dapat memgeluarkan airbtanah sebesar 120 liter per jam.

“The Greatest ini sebenarnya mencegah korban jiwa dan jiga kerugian. Fungsi the Greatest itu mempengaruhi ancaman dari kenaikan air muka tanah. Ketika kita sudah bisa mengurangi ancaman maka resikonya berkurang. Korban jiwa bisa kita hindari. Kerugian bisa perkecil. Itu The Greatest,” ujarnya.

Sementara itu, LIPI Wiseland berfungsi untuk memberikan peringatan dini terhadap potensi longsor. Alat ini menggunakan sensor untuk mengukur kader muka air tanah dan ketinggiannya.

“Pertama sensor untuk mengukur misalnya kader muka air tanah, tinggi muka air tanah. Sebenarnya itu salah satu pemicu terjadinya longsor. Jadi untuk kita mulai deteksi dari pemicunya dulu. Seringkali longsor itu terjadi ketika hujan tinggi. Jadi itu sifatnya lebih mendeteksi lebih dini,” ujar peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Suryadi dalam kesempatan yang sama.

Suryadi menjelaskan alat itu akan memberikan peringatan kepada masyarakat bila terjadi pergerakan tanah. Namun tentunya peringatan yang diberikan oleh alat tersebut harus diverifikasi langsung oleh petugas di lapangan untuk menghindari adanya kesalahan peringatan.

“Jadi ketika misalkan melampaui ambang tertentu. Itu bisa memberikan peringatan kepada kita. Untuk siap-siap. Cuma terjadi atau enggaknya itu akan dikonfirm oleh sensor yang tadi,” tuturnya.

Peringatan itu akan muncul di tempat yang dipasangi gateway di permukiman yang rawan longsor. Dengan adanya peringatan itu, masyarakat juga punya waktu untuk melakukan evakuasi.

“Jadi kita bisa masang yang namanya gateway di lokasi. Jadi gateway kita letakan di permukiman. Jadi gateway dilengkapi dengan alarm yang bisa ditrigger dari jauh kalau memang ada kejadian. Masyarakat sudah diedukasi kalau itu terjadi harus gimana. Jadi alarm itu sebagai tanda. Boleh dikatakan real time. Cuma tidak otomatis. Kalau ktia mendapati sensor itu harus ada verifikasi lapangan juga. Benar nggak. Atau karena ada yang error tertabrak sama orang dan sebagainya,” tuturnya.

Wiseland ini mempunyai keunggulan yaitu menjangkau daerah pemantauan yang luas berdasarkan jejaring sensor, menyajikan data dalam waktu nyata dengan akurasi tinggi, serta memiliki catu daya mandiri menggunakan tenaga panel surya dan baterai kering. Wiseland juga bisa digunakan untuk memantau kondisi keamanan struktur tiang bangunan tinggi.

Suryadi menjelaskan alat tersebut merupakan hasil penelitian sejak tahun 2009. Kata dia, LIPI telah mengembangkan alat sensor untuk mendeteksi pergerakan tanah. 

Dengan demikian, Suryadi mengatakan baik Wiseland maupun The Greatest bisa saling melengkapi untuk mencegah terjadinya longsor. Wiseland berfungsi memberikan peringatan dini dan The Greates berfungsi mencegah tingkat risiko yang diakibatkan oleh longsor tersebut.

“Saya bertanggungjawab untuk sistem monitoringnya sesangkan pak Adrin teknologi untuk menurunkan resikonya. Jadi kalau diimplementasikan pada jenis longsor yang tepat dan tempat yang tepat sesuai. Jadi ada monitoring, terus ada untuk menurunkan resikonya,” pungkasnya.

Sumber: detik.com, Selasa 13-02-2018

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page