Deteksi Dini Longsor Minim

Bencana longsor banyak menimbulkan korban jiwa. Ini dapat diantisipasi dengan memasang alat deteksi longsor. Hingga kini baru terpasang 150 alat deteksi longsor, padahal butuh ribuan alat.

JAKARTA, KOMPAS ā€” Penggunaan alat deteksi tanah rawan longsor masih sangat minim. Saat ini, anggaran pengadaan peralatan pencegahan dan deteksi dini longsor sangat terbatas dibandingkan dengan anggaran tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonsiliasi pascabencana. Padahal, dengan peringatan lebih dini, dampak bencana longsor dapat diminimalkan.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, bencana longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa pada 2018. Sejak Januari hingga Februari 2018 tercatat 19 orang tewas akibat bencana longsor.

Pemerintah pusat melalui BNPB selama ini masih sebatas memberikan informasi lokasi daerah rawan longsor. Permasalahannya adalah masyarakat tidak pernah tahu di mana dan kapan longsor akan terjadi sehingga evakuasi dini tidak optimal.

ā€¯Bencana longsor dapat diminimalkan jika dilakukan pemasangan alat deteksi longsor di daerah yang sudah diketahui tingkat kerawanannya,ā€¯ ujar peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adrin Tohari, dalam media briefing bertema ā€¯Hasil-hasil Penelitian LIPI untuk Cegah Tanah Longsorā€¯, Selasa (13/2), di Jakarta.

Menurut Adrin, upaya pencegahan longsor harus memiliki porsi anggaran yang besar. Dengan anggaran yang optimal, diharapkan pengurangan risiko bencana longsor bisa maksimal.

Secara terpisah, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, anggaran untuk pengadaan dan pemasangan alat deteksi dini longsor sangat terbatas. Pada 2015-2017 baru 150 alat yang dipasang di sejumlah tempat. ā€¯Kami tiap tahun menganggarkan untuk pengadaan alat deteksi dini, tetapi memang terbatas,ā€¯ katanya.

Jika mempertimbangkan peta rentan longsor di Indonesia, kata Sutopo, dibutuhkan ribuan alat deteksi longsor. Jumlah ini bisa lebih banyak daripada alat pencatat gempa yang tersedia. Untuk itu, pemasangan alat masih diutamakan di wilayah dengan tingkat risiko longsor paling tinggi, seperti Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Melihat keterbatasan itu, pemerintah daerah juga diminta berperan dalam pengadaan alat deteksi dini di wilayahnya. Diharapkan pengadaan alat deteksi longsor ini bisa dimaksimalkan untuk mengurangi dampak bencana yang terjadi. Masyarakat pun diajak berperan dalam penanggulangan bencana.

Inovasi

Dalam upaya menekan tanah longsor, Adrin dan timnya mengembangkan sistem terpadu mulai dari pencegahan, pemantauan bahaya longsor, hingga sistem peringatan diri longsor. Untuk pencegahan longsor, pihaknya mengembangkan Teknologi Gravitasi Ekstraksi Air Tanah untuk Kestabilan Lereng (The Greatest). Sementara untuk pemantauan dan peringatan dini longsor digunakan teknologi Wireless Sensor Network for Landslide Hazard and Structural Health Monitoring (Wiseland).

Kedua teknologi tersebut merupakan hasil penelitian dan pengembangan kegiatan unggulan LIPI dari Satuan Kerja Pusat Penelitian Geoteknologi dan Pusat Penelitian Fisika LIPI sejak tahun 2015 hingga 2017.

ā€¯Wiseland dan The Greatest dilihat dari fungsinya saling melengkapi. Karena itu, dapat dijadikan satu sistem terintegrasi untuk diterapkan di daerah berisiko tinggi longsor, yaitu daerah yang berpotensi dilanda berbagai jenis longsor, baik jenis luncuran maupun nendatan (slump),ā€¯ kata Adrin yang juga ketua penelitian ini.

Suryadi dari Kelompok Penelitian Optoelektronik Pusat Penelitian Fisika LIPI mengatakan, teknologi Wiseland menggunakan sistem untuk memantau gerakan tanah berbasis jejaring sensor nirkabel. Sensor ini memiliki peran masing-masing, yaitu untuk mendeteksi pergerakan tanah, peningkatan muka air tanah, dan intensitas curah hujan. Sistem ini dapat memberikan peringatan dini dari ancaman berbagai jenis gerakan tanah di daerah yang luas, baik pada gerakan tanah dalam maupun dangkal.

Adapun teknologi The Greatest berfungsi untuk menurunkan muka air tanah dalam lereng. Tujuannya, mencegah kelongsoran lereng saat musim hujan.

Adrin mengatakan, cara kerja teknologi ini menggunakan sistem siphon, yaitu berdasarkan perbedaan tekanan air tanah di bagian atas dan bawah lereng. Karena itu, sistem ini hanya dapat digunakan pada gerakan tanah dalam. Adapun gerakan tanah dangkal disebabkan oleh proses penjenuhan lapisan tanah, bukan kenaikan muka air tanah, sehingga siphon tidak bisa digunakan.

Alat ini sudah diuji coba di lereng rentan longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung; Jembatan Cisomang ruas Tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta; dan Desa Clapar, Kabupaten Banjarnegara. ā€¯Hasil uji coba di Kecamatan Pangalengan, misalnya, menunjukkan, teknologi ini dapat mengeluarkan air tanah dengan debit sebesar 120 liter per jam melalui flushing unit,ā€¯ ujarnya.

Adrin dan Suryadi berharap kedua hasil penelitian teknik pencegahan tanah longsor ini dapat diterapkan di daerah rawan longsor. Sistem ini tidak hanya mendeteksi bahaya tanah longsor, tetapi juga menekan potensi munculnya bencana sehingga mampu mengurangi jumlah korban jiwa.

Sumber : Kompas 14 Feb 2018 (DD04/MZW/YUN)

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page