Peneliti LIPI: Perayaan Hari Kartini Mestinya Setiap Hari

TEMPO.CO, Jakarta – Sehari menjelang peringatan Hari Kartini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan diskusi publik. Diskusi yang digelar di Gedung LIPI, Jakarta Pusat, pada Jumat, 20 April 2018, itu bertema “Wanita Tangguh dalam IPTEK Bangsa”.

Acara tersebut menghadirkan tiga orang peneliti yang inspiratif dengan bidang penelitian yang kurang feminim, mulai dari peneliti buaya hingga bidang ilmu bumi. Ketiga peneliti ini berkomentar terkait apa makna Kartini masa Kini, berikut komentarnya:

1. Peneliti Mineral Processing Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Mutia Dewi

“Saya pikir kita memperingati hari Kartini itu seharusnya bukan di tanggal 21 April saja ya, tapi perempuan Indonesia harus memperingati Kartini setiap hari dan setiap saat. Dengan berjuang, tetap semangat optimis dan percaya diri itu yang saya pikir arti kartini untuk hari ini,” ujar Mutia.

Mutia Dewi Yuniati bergabung dengan LIPI sejak 2006. Mutia meraih gelar doktor Mineral Processing, Recycling and Environmental Remediation Laboratory dari Department of Earth Resource Engineering, Faculty of Engineering pada 2015 di Kyushu University Jepang.

Menurut peneliti muda ini, awalnya untuk turun ke lapangan agak sulit. Mungkin, kata Mutia, karena belum terbiasa saja ketika mengambil sampel ke daerah pelosok dan gunung. Tapi, menurutnya itu tidak menjadikannya kendala melainkan tantangan untuk maju. Mutia saat ini fokus pada penelitian terkait mineral processing seperti remidiasi atau kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Juga melakukan riset tentang rekayasa mineral untuk pengolahan limbah tambang.

“Sebelumnya saya ucapkan hari kartini ya, pesannya perempuan harus optimis dan harus semangat,” tambah dia. “Jangan mudah menyerah, menurut saya itu kunci untuk bisa berjuang dan bukan hanya untuk peneliti tapi semuanya.”

2. Peneliti Herpetologist Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hellen Kurniati

“Buat saya, makna Kartini adalah penyemangat kerja saya,” ujar Hellen setelah acara tersebut di Media Center LIPI, Jakarta Selatan, Jum’at, 20 April 2018. Hellen bergabung dengan LIPI pada 1988. Fokus bidang yang ditekuni terkait dengan buaya dan katak. Dia mempelajari tentang pola perilaku buaya dan kodok secara detil untuk kepentingan konservasi.

Karir peneliti perempuan, kata Hellen, tidak ada perbedaan, yang menentukan adalah kompetensi dan bukan gender. Peneliti, menurut Hellen, hanya dituntut untuk melalukan publikasi penelitiannya. “Buat saya perempuan cantik itu smart dan punya ciri yang beda dengan perempuan lain dan membuat kagum,” tambah dia.

3. Peneliti Laser Pusat Penelitian Fisika LIPI, Maria Margaretha Suliyanti

“Kartini, dulu berjuang untuk emansipasi. Jadi sebetulnya yang penting adalah bagaimana kita sebagai wanita ikut berperan dalam segalanya, seperti keluarga pemerintah dan negara,” kata ibu yang disapa Yanti itu.

Yanti menjadi bagian dari LIPI sejak 1986. Yanti fokus pada penelitian spectroscopy dan pengembangan laser. Spectroscopy merupakan studi tentang radiasi elektromagnetik laser.

Menurut peraih gelar doktor di UI pada 2006 ini menjadi seorang peneliti perempuan tidak sulit. Hanya saja, Yanti berujar, jika ingin menjadi peneliti orang harus fokus dengan apa yang disukai atau sesuai hobi. “Perempuan harus pandai berbaur, biarpun parasnya kurang cantik kalau bisa bergaul itu tidak akan ada masalah,” ujar Yanti. “Ya, cantik itu bisa berbaur.”

Sumber: tempo.co, 20 April 2018

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page