Konsep Ekohidrologi, Solusi Ketersediaan Air Bersih Berkelanjutan

SuaraKarya.id – JAKARTA: Hampir semua negara di kawasan Asia Pasifik mengalami permasalahan ketersediaan air bersih. Padahal, air bersih merupakan salah satu kebutuhan mendasar manusia untuk memenuhi standar kehidupan secara sehat.

Berdasarkan hal itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengulas lebih lanjut tentang aplikasi konsep ekohidrologi dalam Media Briefing “Pola Hidup Bersih: Aplikasi Ekohidrologi untuk Ketersediaan Air Bersih yang Berkelanjutan di Indonesia”, di Media Center LIPI Pusat Jakarta, Jumat (23/5/2018).

Peneliti dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI Ignasius Dwi Atmana Sutapa mengemukakan, konsep ekohidrologi sebagai solusi. Ekohidrologi merupakan pendekatan dalam pengelolaan sumber daya air terpadu, yang menawarkan pendekatan pembangunan berkelanjutan.

Dalam memahami lingkungan dan sistem sumber daya air melalui pemahaman interdepensi proses dan komponen siklus hidrologi di ekosistem darat dan perairan. “Pendekatan ekohidrologi mampu meningkatkan kualitas sumber daya air dengan mempertimbangkan unsur ekologi, hidrologi, ekoteknologi dan budaya,” tuturnya.

Dijelaskan lebih lanjut, secara spesifik, ada empat prinsip Ekohidrologi, yakni pertama, Aspek hidrologi, menyangkut struktur abiotik dari sistem sungai, dinamika proses-proses hidrologi, serta dampak spesifik spatial-temporal akibat intervensi manusia. Kedua, Aspek ekologi, menyangkut hubungan antar komponen ekosistem yang menunjukkan potensi dan kapasitas ekosistem dalam menghasilkan produk dan jasa lingkungan.

Ketiga, Apek ekoteknologi, mengintegrasikan dari hidrologi dan keterpaduan ekologi untuk pengembangan sistem solusi yang mampu meningkatkan kapasitas ekosistem dalam menghasilkan produk dan jasa lingkungan. Dan yang keempat, Aspek sosial-budaya, degradasi lingkungan ekosistem perairan tidak terlepas dari konsisi sosial budaya masyarakat dan kelembagaan baik formal maupun non formal.

Di bagian lain, Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Rachmat Fadjar Lubis menambahkan, aplikasi terbaru dari konsep Ekohidrologi ini adalah untuk mengurangi dampak musim kemarau, yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus-September tahun ini.

Dalam upaya pengelolaan sumber daya air terpadu, menurut dia, konsep ekohidrologi meliputi informasi dasar ekologi-potensi sumber daya air, aplikasi teknologi yang tepat guna serta ramah lingkungan lokal dan berbasiskan partisipasi masyarakat. “Aplikasi konsep dan teknologi ini telah dilakukan pada beberapa wilayah di Indonesia dengan hasil pengurangan dampak kekeringan yang nyata,” jelasnya.

Sementara dari kacamata ilmu sosial, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Herry Yogaswara menyampaikan, sebenarnya ada kemampuan masyarakat untuk menyediakan air bersih dengan mempergunakan modal sosialnya sendiri, terkait dengan jejaring kerja serta hubungan saling percaya (trust).

Penyediaan air dengan cara mengkonservasi ekosistem tertentu dengan nilai-nilai tradisional masih hidup pada beberapa kelompok masyarakat adat. Dicontohkannya, konsep-konsep tradisional seperti hutan larangan, lubuk larangan, sirah cai (mata air) dan berbagai konsep lainnya.

Diungkapkannya, nilai-nilai tersebut bukan hanya bersifat mitos dan supra-natural, melainkan hidup dalam keseharian. “Tidak hanya itu, beberapa komunitas di pedesaan dan perkotaan juga sudah mempergunakan modal sosialnya untuk penampungan dan pendistribusian air bersih,” tutur dia.

Intinya, lanjutnya, ketersediaan air tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, melainkan masyarakat pun mempunyai daya upayanya sendiri.

Sumber: suarakarya.id, 27 Mei 2018

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page