Large Volume Eruption Tsunamis Krakatau 1883

Pusat Penelitian Geoteknologi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2G LIPI) pada Senin, 4 Juni 2018 menyelenggarakan Seminar dengan pembicara Profesor David Tappin dari British Geological Survey. Bertempat di Ruang Pangea, Gedung 70 Geoteknologi LIPI, seminar ini diisi dengan pemaparan yang berjudul “Large Volume Volcanic Eruption Tsunamis – The Krakatoa Event of 1883”.

Dalam seminar ini, Profesor David Tappin menjelaskan tentang latar belakang beliau melakukan penelitian mengenai tsunami yang diakibatkan oleh letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Tsunami itu sendiri merupakan salah satu bencana alam katastropik yang dapat memakan korban dalam jumlah sangat besar. Tsunami dari letusan Gunung Krakatau 1883 menghancurkan pesisir Lampung dan Jawa bagian barat dan menelan korban jiwa hingga lebih dari 36.000 orang. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih dalam mengenai mekanisme terjadinya tsunami sangat penting dalam upaya mitigasi bencana yang melibatkan seluruh kalangan, sehingga dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan dari bencana alam katastropik tersebut.

Salah satu tantangan yang dihadapi sekarang ini adalah memahami mekanisme tsunami yang disebabkan oleh erupsi vulkanik. Terdapat banyak gunung api di dunia yang erupsinya berpotensi menimbulkan tsunami, karena jarak gunung api kurang dari 5 km dari pesisir pantai. Untuk memahami mekanisme tsunami akibat erupsi gunung api, dibutuhkan model gunung api yang dapat merepresentasikan kejadian tersebut, seperti Tsunami akibat letusan Gunung Santorini dan Gunung Krakatau. Kedua gunung api tersebut merupakan tipe gunung api plinian dimana pada saat erupsi jumlah magma yang dikeluarkan sangat banyak sehingga puncak gunung mungkin runtuh, menghasilkan sebuah kaldera. Letusan Krakatau tahun 1883 menjadi model yang paling baik karena Gunung Krakatau hampir hancur total akibat erupsi tersebut dan material hasil erupsi yang diendapkan di laut dangkal terjaga dengan baik. Penelitian tentang vulkano tsunami ini sangat penting untuk Indonesia, karena terdapat beberapa gunung api yang lokasinya dekat dengan pesisir pada daerah dengan populasi penduduk yang padat.

Mekanisme terjadinya tsunami saat letusan Krakatau 1883 menimbulkan perdebatan di kalangan para ahli. Profesor David Tappin berpendapat bahwa caldera collapse bukan menjadi masalah utama terjadinya tsunami setelah erupsi, melainkan pyroclastic density current (PDC). PDC adalah mekanisme dimana endapan hasil erupsi gunung api menggelincir dan masuk ke laut menyebabkan material yang masuk ke dalam laut bergerak lebih jauh ke dalam akibat gravitasi. Masuknya massa endapan dengan volume yang besar menyebabkan terbentuknya gelombang tsunami. Bukti keberadaan endapan hasil erupsi Krakatau diperkirkan melampar hingga bagian timur cekungan semangku di Selat Sunda. Profesor David Tappin berharap adanya kerjasama yang terjalin dengan lembaga-lembaga penelitian di Indonesia, sehingga data mengenai tsunami dari erupsi Gunung Krakatau 1883 dapat terkumpul untuk menunjang pembuatan model yang lebih mendekati kondisi sebenarnya.

Setelah pemaparan dari Profesor David Tappin, acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Beberapa peserta seminar mengemukakan beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai tsunami Krakatau 1883 yang dapat digunakan sebagai data tambahan pembuatan model numerik seperti data shallow seismic untuk mengetahui persebaran PDC, data stratigrafi di daerah Ujung Kulon, dan data-data hasil survei lapangan. Model numerik yang dikembangkan dari tsunami akibat erupsi Gunung Krakatau diharapkan dapat menjadi acuan model untuk gunung api yang serupa dan untuk penelitian-penelitian mengenai tsunami selanjutnya.

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page