Pendapat Ahli: Catatan Gempa Lombok 2018

Prof. Hery Harjono

*Kapus Puslit Geoteknologi LIPI 2001-2006

*Deputi Kepala LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian 2006-2011

 

Seminggu ini kita dikejutkan oleh dua gempa yang menghantam Lombok Utara. Dari sisi geologi, pada dasarnya tidak ada yang aneh dari dua gempa yg datang hampir berurutan ini. Tahun 1979 Lombok juga Bali Utara digoncang gempa bahkan saat itu diikuti tsunami. Tahun 1992 gempa dan tsunami dahsyat menghantam Flores.

Kenapa gempa muncul disana? Kalau kita cermati, di utara Flores hingga Lombok terdapat patahan atau sesar yang memanjang sejak dari Flores hingga Lombok. Patahan ini sebagai respons terhadap desakan Kontinen Australia. Patahan yg disebut Flores Thrust (Patahan Naik Flores) ini berada di bawah laut. Kenampakannya dari rekaman seismik refleksi (alat untuk melihat anatomi kerak bumi) sangat jelas. Dari ujung timur Laut Flores, tampak dasar laut terpatahkan, dimana bagian utara menyusup ke bawah.  Patahan itu dapat diikuti dengan jelas hingga Lombok. Di utara Bali, deformasi melemah atau tidak sekuat di bagian Lombok. Kebetulan pada  tahun 1981 saya ikut Ekspedisi Marine Geology РRama 12 yang memetakan patahan ini. Ekspedisi dengan menggunakan kapal riset R/V Thomas Washington ini dipimpin oleh Prof. Eli  Silver dari University of California Santa Cruz.

Data gempa, baik lokasi gempa maupun focal mechanism (mekanisme pusat gempa) ke dua gempa jelas berhubungan dengan keberadaan Flores Thrust.

Lantas apa yang penting (harus) dilakukan? Sejatinya baru Sumatra yang kita ketahui tentang kegempaannya. Selebihnya tak banyak kita ketahui. Jawa pun hanya sedikit yang kita ketahui. Saya kira kita perlu mempelajari deformasi yg terjadi di sepanjang Flores Thrust. Problemnya, letaknya ada  di bawah laut. Apa boleh buat. Kita perlu memetakan patahan itu lebih detil. Untuk itu perlu membuat jaringan (temporary)  OBS (Ocean Bottom Seismograph) untuk memetakan pola gempa, dan tentu saja kapal riset untuk memetakan anatomi patahan. Studi deformasi dengan menggunakan GPS amat perlu. Kita beruntung ada beberapa pulau di utara NTB dan NTT yang memungkin kita menempatkan GPS.

Akhirnya sebagai catatan penutup, sebaiknya kita merubah pola pikir. Selama ini riset-riset gempa tak banyak beranjak. Kalaupun ada itu tidak menjadi fokus utama institusi. Kalau pun ada itu atas usaha para peneliti dengan menggalang kerjasama dengan mitra Luar Negeri. Bagaimana mungkin negara yang dikepung gempa dan gunung api seperti tak peduli. Kita baru terkejut kalau bencana itu datang.

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page