Sejarah

geotek1969

Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI sebelumnya bernama Lembaga Geologi dan Pertambangan Nasional (LGPN) atau dikenal sebagai National Institute of Geology and Mining didirikan pada 1 Agustus 1963, dan dipimpin oleh Prof. Dr. J.A. Katili sebagai Direktur. LGPN berada dibawah naungan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) dan Dewan Urusan Riset Nasional (DURENAS) yang kemudian berubah menjadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dikenal sebagai LIPI.

LGPN didirikan dengan maksud untuk melaksanakan dan menyediakan laboratorium bagi pengembangan ilmu-ilmu dasar dan terapan dalam bidang Geologi, Pertambangan, dan Teknik Perminyakan. Pada awal perkembangannya, lembaga ini aktif bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), yang membantu dalam pengembangnannya menuju suatu pusat pendidikan yang kuat dalam bidang Geologi. Kampus Lapangan Karangsambung yang sekarang berada dibawah naungan UPT Balai Informasi Konservasi Karangsambung merupakan salah satu hasil kerja sama dengan ITB. Pendirian kampus lapangan tersebut dimaksudkan sebagai tempat pendidikan dasar para calon ahli geologi.

Fokus awal kegiatan penelitian LGPN pada era tahun 60’an sampai dengan awal 1980 adalah penelitian tektonis kawasan tumbukan lempeng, inventarisasi potensi hidrokarbon, penyusunan konsep pertambangan skala kecil dan konsep pemanfaatan batubara dengan nilai bakar rendah pada tahun 1986, proses reorganisasi dalam lingkungan Lembaga Ilmu Pengertahuan Indonesia LIPI mengubah nama LGPN menjadi Puslitbang Geoteknologi LIPI atau Pusat Penelitian dan Pengembangan Geoteknologi (P3G LIPI). Perubahan nama dan struktur organisasi melalui re-organisasi kelembagaan dimaksudkan untuk revitalisasi lembaga menghadapi dinamika perubahan baik perubahan kondisi eksternal maupun internal. Pada masa itu, P3G LIPI mendirikan Laboratorium Penginderaan jauh pada 1986 yang kemudian sekarang menjadi standar dalam kegiatan penelitian.

SK Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) No. 1151/M/2001 tahun 2001 menandai era baru dimana Pusat Penelitian dan Pengembangan Geoteknologi (P3G LIPI) berubah nama menjadi Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI atau P2G LIPI dibawah Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumiaan LIPI. Pada awal pendirian P2G LIPI, kegiatan penelitian difokuskan dalam bidang ilmu dasar deformasi kerak bumi, eksplorasi mineral dan energi, hidrokarbon dan panas bumi dan geologi teknik. Kegiatan eksplorasi mineral menghasilkan konsep sumber mineral dan evolusi Sesar Sumatra. Kegiatan penelitian bermitra dengan pihak asing aktif dilakukan terutama dengan pihak Jepang dan Perancis. Tercatat beberapa kegiatan penelitian geologi dan geofisika laut sejak awal 1990 dan berlanjut sampai sekarang. Beberapa hasil penting pada era tersebut adalah penemuan sesar bawahlaut Mentawai, penemuan double magma chamber dibawah gunung api Anak Krakatau kemudian penemuan gunungapi bawah laut dikawasan Sangihe, Sulawesi utara.

Mulai tahun 2000, P2G LIPI terlibat dalam penelitian kebencanaan bekerjasama dengan Caltech, Texas, USA, diawali dengan penelitian pemahaman pergerakan sesar Sumatera dan pemasangan GPS di Kepulauan Mentawai untuk melakukan pengukuran pergerakan atau deformasi kerak dikawasan tersebut. Sampai saat ini, sudah 52 unit GPS yang terpasang di kawasan tersebut dan di daratan Sumatera. Melalui penelitian koral, dapat dipelajari sejarah kegempaan di masa lalu di kawasan barat Sumatera dan pemahaman perubahan iklim purba.

Hasil signifikan lainnya dari kerjasama riset dengan pihak Perancis (Institut de Physique du Globe de Paris) sejak tahun 2005 adalah pencitraan struktur seismik bawah permukaan sampai dengan kedalaman 50 km daerah subduksi lempeng di kawasan perairan barat bagian utara Sumatera dan perairan Kepulauan Mentawai guna mengungkapkan sumber gempa megathrust dan tsunami. Data ini juga merupakan data seismik penetrasi dalam yang pertama di dunia yang diakusisi sebelum gempa besar terjadi sehingga sangat berguna untuk mengetahui struktur zona seismogenik sebelum dan setelah terjadinya gempa besar (apabila nantinya terjadi). Kerjasama ini juga menjadi bukti sinergitas antara lembaga penelitian dan dunia industri khususnya industri migas.

Melalui Peraturan Kepala LIPI Nomor 1 Tahun 2014, Pusat Penelitian Geoteknologi mengalami perampingan struktur organisasi dalam rangka menghadapi perubahan lingkungan global dan meningkatkan daya guna serta hasil guna penyelenggaraan tugas dan fungsi pemerintahan di bidang penelitian ilmu pengetahuan. Saat ini tugas Pusat Penelitian Geoteknologi adalah melaksanakan penelitian di bidang geoteknologi, dengan rencara penelitian fase 3 RPJMN 2015-2019 :
1.    Pengurangan risiko bencana geologi dan iklim;
2.    Ketersediaan air baku;
3.    Optimalisasi fungsi lahan dan lingkungan;
4.    Ketahanan mineral dan energi.

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page