Penelitian jalur, karakteristik dan dampak patahan aktif penghasil gempabumi yang mengancam Kota Besar di Indonesia

Indonesia berada di wilayah tektonik yang sangat aktif, dibelah-belah oleh banyak sesar aktif dan dibingkai oleh batas-batas tiga lempeng besar. Sebelah utara adalah Lempeng Eurasia, sebelah selatan dan barat adalah Lempeng Indo-Australia, dan sebelah timur adalah Lempeng Pasifik. Konsekuensi ini berakibat pada banyaknya kejadian gempabumi di wilayah Indonesia.

Gempabumi dan tsunami M9.2 Aceh 2004 menyebabkan malapetaka besar di utara Pulau Sumatra hingga ke kawasan Asia Selatan dan Afrika menyebabkan lebih dari 200ribu korban jiwa. Gempabumi M6+ 2006 Yogyakarta menyebabkan kerusakan besar infrastruktur dan 5000 korban jiwa. Gempabumi 2007 M6+ di Solok, gempabumi 2009 M7+ di Pariaman, gempabumi 2012 di Palu, dan lainnya yang menyebabkan kerusakan, korban jiwa dan juga terganggunya pembangunan di wilayah dan Indonesia umumnya. Rencana pemerintah melalui P3EI dan RJPN 2005-2019 dapat gagal karena konsekuensi wilayah Indonesia yang berada di jantung bencana gempabumi ini. Hal ini yang melatar-belakangi pentingnya mitigasi gempabumi yang juga dicanangkannya Rencana Nasional Penanggulangan Resiko Bencana tahun 2010-2014. Isu ini juga menjadi isu penting raker IPK LIPI 2015-2019 yaitu “Pengurangan Resiko Bencana dan Lingkungan” dan point satu amanat raker Puslit Geoteknologi 2015-2019 “Mitigasi Bencana Kebumian ”serta amanat Raker Kedeputin IPK LIPI sebagai implementasi kegiatan unggulan satker bertema “Penyusunan Konsep Mitigasi Bencana Tektonik Aktif untuk Penataan Ruang”.

Salah satu mitigasi gempabumi yang penting di Indonesia adalah dengan penerapan peta analisis probabilitas bahaya gempabumi (Probabilistic Seismic Hazard Analysis – PSHA). Peta ini digunakan sebagai acuan bangunan tahan gempabumi di seluruh wilayah Indonesia. Peta PSHA Indonesia yang terbaru, dibuat oleh Tim-9 (Tim ahli gempa bumi gabungan beberapa instansi pemerintah antara lain LIPI, PU, ESDM, BNPB dan ITB) dan sudah direkomendasikan oleh Menteri PU tahun 2010 untuk disahkan, dibuat dengan input data patahan aktif terbaru. Namun para ahli dalam Tim-9 juga mengakui bahwa data sesar aktif yang tersedia masih sangat minim sehingga desain input data parameter patahan aktif sebagian besar dibuat hanya berdasarkan pendekatan tektonik regional, asumsi-asumsi, dan pertimbangan ahli yang sebaik-baiknya (Irsyam et al., 2010). Termasuk didalamnya adalah kawasan Sumatra bagian selatan dan Jawa bagian Barat yang menjadi fokus penelitian berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) Puslit Geoteknologi LIPI tahun 2015-2019.

Catatan sejarah menunjukkan pernah ada kejadian gempabumi dan tsunami pernah melanda di kawasan Sumatra bagian selatan dan Jawa bagian Barat. Antara lain kejadian gempabumi kuat tanggal 5 Januari 1699 yang terasa di Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan. Gempabumi ini menyebabkan 21 rumah dan 20 gudang roboh serta menyebabkan kematian 28 orang di Batavia (nama tua Jakarta). Lebih parah lagi, gempabumi ini menyebabkan longsoran yang menutup jalur sungai Ciliwung yang kemudian jebol dan menyebabkan bencana banjir bandang di Jakarta (Wichmann, 1918). Kejadian lainnya adalah gempabumi kuat tanggal 22 Januari 1780 terjadi yang menyebabkan 27 bangunan roboh di Bantam (nama tua Banten). Gempabumi ini terasa kuat hingga ke Cirebon dan Bengkulu. Gempabumi tersebut hingga saat ini belum ada publikasi yang menjelaskan sumber lokasi, periode ulang, dan apalagi perkiraan perulangan kejadiannya.

Selain informasi tersebut di atas, tidak ada lagi catatan sejarah tsunami purba di Sumatra bagian Selatan dan Jawa bagian barat. Hal ini merupakan salah satu isu pokok dalam mitigasi bencana, dikarenakan catatan sejarah tsunami purba merupakan informasi yang sangat penting yang akan memberikan data mengenai sumber, waktu perulangan dan besaran tsunami. Lebih dari itu, saat ini tidak tersedia peta detil Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (PTHA). paleotsunami merupakan informasi pokok dalam PTHA dimana salah satunya data paleotsunami akan digunakan untuk mengkonfirmasi model inundasi dari simulasi tsunami purba. Data catatan sejarah tsunami yang terbatas ini dapat diperluas melalui penelitian paleotsunami yang sistematis.

Penelitian jalur, karakteristik dan dampak sesar aktif penghasil gempabumi yang mengancam kota-kota besar di Indonesia ini penting untuk dilakukan. Pemahaman tentang karakteristik dan periode ulang sesar di kawasan ini mutlak penting untuk mitigasi dan keberlanjutan kegiatan masyarakat dan negara Indonesia.

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page