Peningkatan nilai tambah batubara dan mineral non logam serta potensi mineral alterasi hidrotermal di Kawasan Jawa Bagian Barat dan Sumatera Bagian Selatan

Penduduk Indonesia sebagai salah satu negara berkembang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, menimbulkan berbagai dampak terhadap aspek kehidupan manusia. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah penggunaan energi untuk menunjang kebutuhan hidup meliputi sektor industri dan rumah tangga. Dari sisi pasokan, energi Indonesia masa mendatang masih akan didominasi oleh batubara diikuti oleh minyak dan gas bumi.

Indonesia memiliki 106 milyar ton dengan penyebarannya sebagian besar di Kalimantan (48,83 persen) dan Sumatera (46,34 persen), dan sekitar 21 milyar ton adalah cadangan batubara yang dapat ditambang (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2011). Penelitian mengenai batubara meliputi 2 kegiatan, yaitu:

Pertama adalah pembuatan kokas berasal dari batubara berperingkat rendah. Kokas merupakan komoditi penting yang banyak dibutuhkan pada industri berskala kecil sampai skala besar. Industri yang membutuhkan kokas antara lain industri pengecoran logam, industri gula, industri elektrode dan elektronik dan industri logam lainnya (Supriyanto, 2001). Mengingat kokas merupakan komoditi yang cukup penting, terutama pada industri logam dan baja, maka usaha pengembangan dan pemenuhan kebutuhan kokas dari dalam negeri menjadi sangat perlu. Kokas selain digunakan untuk meningkatkan kandungan karbon dalam besi, juga berfungsi sebagai bahan bakar, bahan pereduksi maupun penyangga beban. Jadi jelas bahwa batubara berperingkat rendah diharapkan sebagai sumber bahan karbon dan energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada impor yang tentunya dapat menghemat devisa. Penguatan inovasi nasional khususnya pada teknologi proses produksi kokas dari batubara berperingkat rendah sangat dibutuhkan dalam waktu dekat ini untuk mendukung program MP3EI 2011-2025. Diharapkan hasil dari inovasi teknologi proses pembriketan dan pengkokasan secara langsung pada kegiatan litbang ini nantinya dapat diterapkan pada industri kokas nasional di Indonesia, yang secara langsung dapat menjawab pemenuhan kokas nasional pada industri manufaktur baja, elektronik dan industri logam lainnya. Kedua pada pengolahan batubara, recovery hanya sekitar 70 persen, dan 30 persen terbuang sebagai sludge fine coal, atau jenis tidak layak jual. Indonesia saat ini tercatat memiliki limbah batubara dengan volume yang besar. Pada umumnya limbah batu bara halus (sludge fine coal) sisa hasil pencucian ditumpuk begitu saja atau dibuang ke sungai. Pembuangan tersebut, akan berdampak buruk baik terhadap sungai maupun tanah sekitarnya.

Beberapa masalah lingkungan terkait dengan pertambangan batubara tersebut mencakup pelepasan asam dan pengendapan yang sulit untuk ditampung dan dapat menyebabkan pencemaran air. Polusi ini telah terjadi di daerah tangkapan air Barito, daerah aliran sungai (DAS) utama di pulau Kalimantan, yang akan berisiko bagi pasokan air masyarakat setempat. Bahkan, partikel abu mengambang berasal dari batu bara yang mengandung timbal, arsenik, dan merkuri adalah racun bagi kesehatan manusia. Selain itu menurut data sekitar 86,11 persen batubara di Indonesia adalah peringkat rendah agar dapat dimanfaatkan, nilai kalornya harus ditingkatkan. Melihat kondisi di atas, LIPI menilai diperlukan penanganan fine coal untuk memanfaatkan sumberdaya alam tersebut sebagai sumber energi, lebih jauh lagi untuk mencegah kerusakan lingkungan, baik tanah maupun air. Termasuk juga bagaimana meningkatkan kualitas batubara yang berkualitas rendah selain dibuat kokas. Dalam penelitian tahun 2015 dan 2016 telah dilakukan formulasi briket dan pembriketan batubara fine coal hasil pertambangan dari Bayah, Lebak dan batubara peringkat rendah dari Caringin Garut yang telah ditingkatkan nilai kalornya dengan penambahan limbah peternakan. Dalam penelitian tahun ke-3 akan meninjau efektivitas pembakaran dan emisi gas buang dari hasil pembriketan tersebut.

Diharapkan dari penelitian ini, ekologi industri batubara dapat dilakukan untuk menghasilkan produk yang environmental friendly. Dengan menerapkan langkah-langkah penelitian, istilah black industry dapat digantikan menjadi green industry.

Mineral alterasi hidrotermal adalah suatu mineral yang dapat dijadikan petunjuk atau indikator di dalam mencari mineralisasi logam dasar – logam mulia dan manifestasi panasbumi. Fenomena tersebut secara umum banyak didapatkan di jalur gunungapi tua maupun gunungapi muda, seperti yang dijumpai dari arah Sumatera Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Pada batuan gunungapi tersebut banyak didapatkan sumberdaya alam yang terbentuknya berkaitan dengan kegiatan magma atau aktivitas volkanisme, seperti logam-logam berharga (emas, perak, tembaga, timah, zing) beserta unsur-unsur tanah jarang, dan energi panasbumi yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang dan yang akan datang. Daerah Jawa Barat dan Banten banyak gunungapi tua dan muda, sehingga dapat diprediksi akan dapat ditemukan cebakan logam yang dimaksud dan sumber energi panasbumi. Untuk tahun 2017 penelitian dilakukan di wilayah Propinsi Banten, Kabupaten Lebak, yaitu daerah G. Endut, Cisunsang, dan Cibaliung.

Metode yang digunakan penelitian adalah geologi, pengukuran unsur Radon pada lapangan panasbumi dari soil dan air panasnya, dan Magnetotelurik untuk mengetahui kondisi bawah permukaan, serta pengambilan sejumlah sampel batuan untuk dianalisis secara petrografi, XRF, XRD, Inklusi Fluida dan kumia untuk mengetahui kandungan Major Elements, Trace Elements, Rare Earth Elements, dan pengambilan sampel air panas untuk dianalisis secara kimia untuk mengetahui tipe air dan suhu bawah permukaan.

Berkaitan dengan usulan kegiatan penelitian 2017 ini mempunyai tujuan dapat menunjukkan hasil dari cebakan logam dan unsur-unsur jarang yang diteliti. Selain itu, berdasarkan konsep ekplorasi panasbumi yang sedang dibangun dapat diaplikasikan untuk pemanfaatan sumber energi panasbumi sekala kecil. Aplikasi konsep eksplorasi panasbumi ini akan diterapkan di Banten atau di daerah perbatasan (frontier), seperti daerah Palue, Nusa Tenggara, dan lainnya yang sangat membutuhkan listrik, dan direncanakan diterapkan pada tahun Anggaran 2018 melalui kegiatan unggulan LIPI.

Mineral industri dan material limbah berbasis silikon dioksida atau karbonat diperkirkaan terdapat dalam jumlah yang sangat besar di Indonesia. Mineral industri tersebut dapat diproses untuk menghasilkan material fungsional tertentu yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dari mineral asalnya. Usaha peningkatan nilai tambah mineral tersebut sesuai dengan semangat yang terkandung dalam Undang-undang Minerba tahun 2009 dan 2013 tentang peningkatan nilai tambah mineral. Proposal penelitian ini merupakan diharapkan merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya mengenai pengolahan mineral industri dan material limbah untuk menghasilkan material fungsional tertentu. Target produk yang dihasilkan dari penelitian ini adalah material pupuk slow release dan material geopolimer. Penelitian tahun sebelumnya telah berjalan dan menghasilkan sampel awal pupuk slow release dan geopolimer. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui variable proses pengolahan sekaligus untuk mendapatkan kondisi proses yang optimal. Pada tahun kedua ini akan dilakukan serangkaian pengamaan terhadap variabel proses sehingga didapatkan kondisi optimal untuk menghasilkan sampel sesuai dengan kebutuhan di level aplikasi.

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page