Penelitian Ancaman Seismik dan Gerakan Tanah di Wilayah Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Cekungan Bandung dan Selat Sunda

Pengembangan tataruang wilayah di Kawasan Strategis Nasional cekungan Bandung dan Selat Sunda memerlukan informasi ilmiah mengenai risiko bencana geologi mengingat daerah-daerah yang berada dalam kawasan-kawasan ini berada pada zona bahaya seismik karena dipengaruhi oleh kondisi geologi, dan tektonik, dan pada zona kerentanan gerakan tanah akibat kondisi morfologi, iklim dan aktifitas manusia. Kejadian gempabumi dari pergerakan sesar aktif di darat maupun di zona subduksi kedua kawasan ini sudah sering terjadi hampir setiap tahunnya, menimbulkan kerusakan bangunan karena perkuatan getaran gempabumi pada daerah yang tersusun oleh endapan aluvial dan vulkanik muda, sedangkan peristiwa tanah longsor merupakan ancaman yang selalu muncul setiap tahunnya di daerah perbukitan yang tersusun oleh endapan vulkanik muda selama musim hujan. Selain itu, aktifitas pengambilan airtanah berlebih untuk kebutuhan industri menyebabkan penurunan tanah di daerah yang terbentuk oleh endapan aluvium di kedua kawasan ini.

Penelitian tentang ancaman seismik dan gerakan tanah di kedua kawasan ini selama 5 tahun akan difokuskan pada 3 (tiga) jenis ancaman geologi yaitu ancaman tanah longsor, amplifikasi tanah dan penurunan tanah baik secara spasial maupun temporal. Dengan mempertimbangkan ketersediaan data, maka penelitian pada kawasan strategis Cekungan Bandung akan diselesaikan dalam dua tahun pertama, yang meliputi Kota Bandung, dan Kab. Bandung Barat. Sedangkan penelitian pada kawasan Selat Sunda akan diselesaikan dalam tiga tahun terakhir.

Penelitian akan meliputi kegiatan pengambilan dan analisis data sekunder dan primer yang meliputi data geologi bawah permukaan, data geoteknik lapisan tanah, data geofisika, dan data hidrologi bawah permukaan untuk mengetahui besaran dan sebaran ancaman seismik dan gerakan tanah di kedua kawasan tersebut.

Pada tahun 2017 ini, metode penelitian meliputi pemboran teknik pada 6 titik, pengujian SDMT dan CPTu masing-masing sebanyak 20 titik, survei gaya berat sebanyak 150 titik di setiap lokasi penelitian, dan mengambilan sample tanah tak terganggu. Penelitian tahun 2017 diharapkan menghasilkan informasi ilmiah mengenai mikrozonasi ancaman seismik dan gerakan tanah di KSN Cekungan Selat Sunda di wilayah Banten, khususnya kawasan pengembangan Kabupaten Pandegelang. Selain itu, diseminasi hasil penelitian di wilayah Cekungan Bandung akan dilakukan dalam kegiatan di tahun ini pula. Hasil dari penelitian dapat memberikan kontribusi IPTEK dalam penyusunan RTRW berbasis pengurangan risiko bencana geologi di wilayah Cekungan Bandung dan Selat Sunda.

It's only fair to share...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePrint this page